p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Khoirun Nisa Alfitri
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pola Asuh Ibu Dalam Pemberian Makan Terhadap Kejadian Picky Eating Anak Usia Pra Sekolah Aninta Surgiyan Dini; Khoirun Nisa Alfitri; Silvi Lailatul Mahfida
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1228

Abstract

Pola asuh ibu dalam menyajikan makan merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam membentuk perilaku makan anak sejak dini. Penerapan pola asuh yang tidak tepat diduga berkontribusi terhadap munculnya perilaku pilih-pilih makan pada anak usia dini, yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh ibu dalam memberikan makan dengan kejadian picky feeding anak usia dini. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional . Populasi penelitian mencakup seluruh ibu yang memiliki anak usia 2-6 tahun di wilayah kerja Puskesmas Gamping I. Sebanyak 99 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi ibu yang memiliki anak usia 2-6 tahun, berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Gamping I, mampu membaca dan menulis, serta bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani informed consent . Kriteria eksklusi meliputi ibu dengan keterbatasan kesehatan fisik atau mental, anak dengan alergi makanan berat, anak dengan gangguan perkembangan, serta anak yang datang ke posyandu tidak bersama ibu. Pola asuh ibu dalam memberikan makan diukur dengan Caregiver's Feeding Styles Questionnaire (CFSQ), dan perilaku picky feeding diukur menggunakan Children's Eating Behavior Questionnaire (CEBQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menerapkan pola pengasuhan demokratis (30,30%), pengabaian (25,25%), otoriter (23,23%), dan permisif (21,21%). Kejadian picky eater ditemukan pada 70,71% anak. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,004 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh ibu dalam memberikan makan terhadap kejadian picky feeding anak usia dini. Tingginya prevalensi picky eater pada anak membuktikan bahwa perlunya edukasi kepada ibu tentang penerapan pola asuh yang seimbang antara kontrol dan tanggung jawab.
Hubungan Tingkat Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Food Neophobia Pada Anak Pra Sekolah Usia 3-6 Tahun Eka Ageng Febriyanti; Khoirun Nisa Alfitri; Ibtidau Niamilah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1236

Abstract

Food neophobia adalah perilaku makan yang umum di antara anak-anak prasekolah dan dapat mengurangi keragaman pola makan serta kecukupan nutrisi. Status sosial ekonomi orang tua dianggap sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perilaku makan anak. Studi ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan food neophobia pangan pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di wilayah kerja Puskesmas Gamping 1, Kabupaten Sleman. Studi kuantitatif ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 61 orang tua atau pengasuh utama yang dipilih menggunakan purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi orang tua atau pengasuh utama yang memiliki anak usia 3–6 tahun, berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Gamping I, bersedia menjadi responden, serta mampu mengisi kuesioner. Kriteria eksklusi meliputi anak dengan kondisi yang memerlukan diet khusus atau gangguan yang memengaruhi perilaku makan, sedangkan dropout mencakup responden yang tidak menyelesaikan kuesioner atau mengundurkan diri selama penelitian. Data tingkat sosial ekonomi diperoleh melalui kuesioner karakteristik responden yang meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan rumah tangga, sedangkan kejadian food neophobia diukur menggunakan child food neophobia scale (CFNS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan anak berada pada kategori tidak food neophobia (77,05%). Mayoritas orang tua atau pengasuh utama memiliki tingkat pendidikan sedang (60,66%), tidak bekerja (68,85%), dan pendapatan rumah tangga kategori sedang (54,10%). Berdasarkan hasil analisis, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,347), jenis pekerjaan (p=1,000), maupun tingkat pendapatan (p=0,725) dengan kejadian food neophobia pada anak prasekolah usia 3-6 tahun. Status sosial ekonomi orang tua tidak secara signifikan terkait dengan neofobia makanan pada anak prasekolah. Faktor lain, termasuk praktik pemberian makan, paparan makanan, pengalaman makan, dan lingkungan makan keluarga, mungkin lebih memengaruhi penerimaan anak terhadap makanan baru.