Internalisasi nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah merupakan keniscayaan mendesak di tengah menguatnya degradasi moral dan karakter generasi muda pada tahun 2023 yang ditandai dengan menurunnya kesopanan, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta maraknya perilaku menyimpang di kalangan pelajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab strategis tidak hanya mentransfer pengetahuan keagamaan secara kognitif, tetapi juga menanamkan dan membumikan nilai-nilai Islam dalam kepribadian peserta didik secara holistik. Namun demikian, implementasi internalisasi nilai keislaman masih menghadapi berbagai kendala seperti pendekatan yang normatif-tekstualis, kurangnya integrasi lintas aktivitas sekolah, serta lemahnya sinergi antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif strategi, proses, dan faktor-faktor yang mempengaruhi internalisasi nilai keislaman di lingkungan sekolah pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), mengkaji berbagai sumber ilmiah berupa jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, buku akademik, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan dengan internalisasi nilai keislaman di sekolah yang terbit pada tahun 2023 ke bawah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara kritis-analitis. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa internalisasi nilai keislaman di lingkungan sekolah diimplementasikan melalui tiga strategi utama: (1) strategi keteladanan (uswah hasanah) yang menempatkan guru dan staf sekolah sebagai role model perilaku Islami; (2) strategi pembiasaan (ta'wid) melalui kegiatan keagamaan rutin seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur'an, doa bersama, dan kultum; serta (3) strategi pengintegrasian nilai keislaman ke dalam seluruh aktivitas sekolah, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Proses internalisasi berlangsung melalui tiga tahapan: transformasi nilai (pengenalan), transaksi nilai (interaksi dan refleksi), dan transinternalisasi nilai (nilai menjadi kepribadian). Faktor pendukung utama meliputi komitmen seluruh warga sekolah, dukungan kebijakan, dan lingkungan fisik yang religius, sementara faktor penghambat utama terdiri dari pengaruh media sosial, keterbatasan peran orang tua, dan tekanan teman sebaya. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah pengembangan Model INTEK (Internalisasi Nilai Terintegrasi-Kontekstual) sebagai kerangka komprehensif internalisasi nilai keislaman yang mengintegrasikan dimensi kultural, kurikuler, dan kontekstual secara simultan.