ABSTRACT The needs of IPAS learning in elementary schools extend beyond conceptual mastery to include the availability of instructional resources that guide students in using knowledge to examine and solve problems. This study developed a teaching module based on Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) for fourth-grade students on the topic of changes in the state of matter, with the aim of producing a valid, practical, and effective product to support critical thinking skills. The development followed the Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE) model and involved 18 fourth-grade students at SD Unggulan Hamzanwadi. Product validity was assessed by material, language, and design experts, while practicality was evaluated by a teacher and effectiveness was examined through a critical thinking test using a One Group Pretest-Posttest design. The product obtained validation scores of 45 from the material expert, 46 from the language expert, and 40 from the design expert, categorized as very valid for material and language and good for design. The teacher's practicality assessment reached 90%, categorized as very practical. Student achievement increased from a mean pretest score of 78.33 to 94.44 on the posttest, with an N-Gain of 0.79, categorized as high. These findings indicate that the developed module demonstrates adequate validity, practicality, and initial effectiveness as an IPAS instructional resource supporting the development of elementary students' critical thinking skills. ABSTRAK Kebutuhan pembelajaran IPAS di sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan penguasaan konsep, tetapi juga dengan tersedianya perangkat yang dapat mengarahkan siswa menggunakan pengetahuan untuk menelaah dan memecahkan persoalan. Penelitian ini mengembangkan modul ajar berbasis Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) pada materi perubahan wujud benda kelas IV dengan sasaran menghasilkan produk yang valid, praktis, dan efektif dalam mendukung kemampuan berpikir kritis. Pengembangan mengikuti model Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE), melibatkan 18 siswa kelas IV SD Unggulan Hamzanwadi. Kelayakan produk diperoleh melalui validasi ahli materi, bahasa, dan desain, sedangkan keterpakaian dinilai oleh guru dan efektivitasnya melalui tes kemampuan berpikir kritis dengan desain One Group Pretest-Posttest. Produk memperoleh skor validasi 45 dari ahli materi, 46 dari ahli bahasa, dan 40 dari ahli desain, dengan kategori sangat valid pada materi dan bahasa serta baik pada desain. Penilaian guru mencapai 90% dengan kategori sangat praktis. Perubahan capaian siswa tampak dari rata-rata 78,33 pada pretest menjadi 94,44 pada posttest, dengan N-Gain 0,79 pada kategori tinggi. Temuan tersebut menegaskan bahwa modul yang dikembangkan memiliki kelayakan, keterpakaian, dan efektivitas awal sebagai perangkat pembelajaran IPAS yang mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar.