Pendahuluan: Gangguan fungsi kognitif merupakan masalah yang sering ditemukan pada lansia dan dapat memengaruhi kemandirian serta kualitas hidup. Berbagai faktor biologis dan sosiodemografis diduga berhubungan dengan fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif pada lansia. Metode: Penelitian observasional dengan desain potong lintang ini melibatkan 99 responden berusia ≥60 tahun di PUSAKA Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Variabel sosiodemografis meliputi usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan, sedangkan faktor biologis meliputi hipertensi, diabetes melitus, dan indeks massa tubuh. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-INA). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-square, dilanjutkan dengan regresi logistik multivariat. Hasil: Sebanyak 65,7% responden mengalami gangguan fungsi kognitif. Tingkat pendidikan berhubungan secara bermakna dengan gangguan fungsi kognitif pada analisis bivariat (p=0,014; OR=2,943; IK95% 1,231–7,035). Tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, maupun indeks massa tubuh dengan gangguan fungsi kognitif. Pada analisis multivariat, tingkat pendidikan tetap berhubungan secara bermakna dengan gangguan fungsi kognitif (p=0,029; OR=2,685; IK95% 1,109–6,501). Simpulan: Tingkat pendidikan berhubungan secara independen dengan gangguan fungsi kognitif pada lansia. Lansia dengan tingkat pendidikan lebih rendah memiliki odds gangguan fungsi kognitif yang lebih tinggi dibandingkan lansia dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.