Konflik pertemanan pada remaja merupakan fenomena sosial yang semakin kompleks seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial sebagai ruang interaksi. Komunikasi digital yang memiliki keterbatasan dalam menyampaikan ekspresi nonverbal dapat memunculkan kesalahpahaman, perbedaan persepsi, dan ketegangan dalam hubungan pertemanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman siswa kelas VIII dalam menghadapi konflik pertemanan di era media sosial serta memahami makna yang diberikan siswa terhadap pengalaman tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap siswa kelas VIII SMP Harjamukti Depok dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu pengalaman siswa dalam menghadapi konflik pertemanan di era media sosial, pemaknaan ketegangan konflik dan dampak emosional, serta pemaknaan konflik sebagai proses pembelajaran sosial. Konflik pertemanan tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi, tetapi juga oleh proses interpretasi siswa terhadap pesan, unggahan, dan interaksi digital. Selain memberikan dampak emosional seperti rasa sedih, kecewa, dan kehilangan kepercayaan diri, pengalaman konflik juga mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, regulasi emosi, serta penggunaan media sosial secara lebih bijaksana. Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik pertemanan dapat menjadi pengalaman perkembangan sosial dan emosional bagi remaja apabila didukung dengan kemampuan penyelesaian konflik yang adaptif.