Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan terapi suportif dengan teknik bimbingan untuk mengurangi dorongan bunuh diri pada pasien skizofrenia Sulastry Pardede
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 1, No 1 (2017): TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.11140

Abstract

This research investigated a paranoid type of schizophrenia patients who have a high suicide impulse is characterized by depression and mental disorders, desperate and feel helpless, negative events in life, social isolation, family disorders, lack of understanding of the meaning of life and negative self-acceptance. The purpose of this study was to determine the clinical features and application of supportive therapy with counseling techniques to reduce impulse suicide in schizophrenic patients. The method used in this study is a single case study design. Researcher using observation, interviews and psychological tests which are Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WBIS), Sack’s Sentence Completion Test (SSCT), Graphics, Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) and supportive therapy intervention with counseling techniques. Results showed reduced impetus suicide intervention, strengthened by the results of pre-test 9 in medium category (medium Intent), while the post-test scores are included into the low category 3 (low intent) with the Suicide Intent Scale (SIS). Prognosis on the subject: positive, where the impulse suicide reduced.
Hubungan self-acceptance dengan kebahagiaan siswa Novia Ayu Widyasari; Wa Ode Lili Andriani Nasri; Sulastry Pardede
Orien: Cakrawala Ilmiah Mahasiswa Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/ocim.v3i1.8984

Abstract

the background of this research is the instability and immaturity of self-acceptance possessed by class VII students at SMP Negeri 9 Depok which is caused by a lack of self-confidence so that they show a tendency to be passive, shy about expressing their difficulties in learning, afraid to accept criticism and feel inferior to the condition he has, which ends up causing him to find it difficult to achieve happiness in life. The method used in this research is correlational research with a quantitative approach. The research sample was 122 students. The results of this study have a Pearson correlation coefficient of 0.720 with a significance value of 0.000 (p < 0.05) which indicates that there is a strong positive correlation between self-acceptance and the happiness of class VII students at SMP Negeri 9 Depok. This indicates that the higher the level of self-acceptance, the higher the happiness level of class VII students at SMP Negeri 9 Depok. Conversely, the lower the level of self-acceptance, the lower the happiness level of class VII students at SMP Negeri 9 Depok.
Isu perkawinan: Tujuan, Komitmen, dan Komunikasi Sulastry Pardede
Journal of Academia Perspectives Vol 3, No 2 (2023): Journal of Academia Perspectives
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jap.v3i2.1788

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji tentang isu-isu dalam perkawinan.  Pentingnya setiap pasangan yang akan menikah dan yang sudah menikah mengetahui isu-isu yang ada di dalam perkawinan, memahami pentingnya tujuan membangun sebuah keluarga, menjaga komitmen dan komunikasi dalam perkawinan, mengetahui  jenis dan komponen komitmen dalam perkawinan serta mengetahui jenis komunikasi dalam perkawinan sebagai upaya untuk membangun perkawinan yang harmonis dan selarasa dengan tujuan dari perkawinan itu sendiri. Hal ini merupakan dinilai penting karena membangun sebuah keluarga dan mepertahankan perkawinan bukanlah hal yang mudah. Membentuk dan membangun rumah tangga ternyata lebih mudah daripada mempertahankan keutuhan keluarga itu sendiri. Perkawinan yang kuat tidak terjadi dengan begitu saja tetapi perlu diupayakan dan diperjuangkan oleh setiap pasangan yang sudah memilih untuk menikah. Pasangan suami isteri harus memiliki niat yang kuat dan usaha untuk  meningkatkan  dan mempertahankan kualitas hubungan perjawinannya. Salah satu kunci mempertahankan perkawinan yang kuat adalah komitmen dan komunikasi di dalam perkawinan itu sendiri.
Layanan Kegiatan Promotif untuk Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Jiwa pada Para Pekerja di Lembaga Perlindungan Saksi & Korban Gundah Noor Cahyo; Sara Sahrazad; Sulastry Pardede; Erlis Thertina
Darma Cendekia Vol. 5 No. 1 (2026): Darma Cendekia
Publisher : CV Buana Prisma Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60012/dc.v5i1.202

Abstract

Kesehatan mental merupakan faktor penting yang menunjang kinerja pekerja. Psychological distress di tempat kerja dapat menyebabkan berbagai dampak merugikan seperti burnout, kecemasan, dan penurunan produktivitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pekerja di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengenai pentingnya kesehatan mental di tempat kerja. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah terbentuknya sistem dan konsep layanan transfer pengetahuan yang didasarkan pada pendampingan yang intensif dan mandiri. Model Edukasi Terstruktur (Pemindahan Pengetahuan yang Terorganisir) adalah konsep yang memastikan mitra tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memahami cara kerja dan alasan di balik solusi yang diberikan. Sedangkan bentuk layanan yang berjalan adalah ruang kolaborasi di mana tim abdimas berperan sebagai fasilitator dan mentor. Layanan ini dibuat dengan gagasan untuk memperkuat kemampuan sendiri, bukan bergantung pada orang lain. Hasilnya adalah terbentuknya kerangka kerja di mana mitra diajari cara menyelesaikan masalah sendiri, sehingga mereka bisa mengelola, mengembangkan, dan mengulang kembali konsep yang telah diajarkan secara terus-menerus. Program edukasi psikososial terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan mental di tempat kerja. Kegiatan ini berhasil mengurangi stigma, membangun kesadaran kolektif, dan membekali peserta dengan keterampilan praktis manajemen stres yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari