This Author published in this journals
All Journal PESHUM
Risma Juliana
Universitas Hamzanwadi Lombok Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengembangan Pribadi Konselor sebagai Fondasi Profesionalitas Guru BK dalam Pelaksanaan Layanan Konseling di SMP/SMA: Studi Kualitatif Ahlun Nazali; Januariadi Januariadi; Baiq Mahyatun; Nia Aspari; Risma Juliana; Wardatul Jannah
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.19591

Abstract

Profesionalitas guru Bimbingan dan Konseling (BK) lazim dimaknai sebagai penguasaan teori, teknik asesmen, dan kemampuan menyusun program layanan, sementara kualitas pribadi konselor sebagai instrumen utama proses bantuan cenderung diabaikan. Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana pengembangan pribadi konselor berfungsi sebagai fondasi profesionalitas guru BK dalam pelaksanaan layanan konseling di SMP dan SMA, dengan menelaah bentuk-bentuk pengembangan pribadi yang ditempuh guru BK, peran pengembangan tersebut dalam membangun profesionalitas, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Kajian dibangun di atas kerangka konseptual yang merangkai lima dimensi pengembangan pribadi (kesadaran diri, kematangan emosional, kemampuan refleksi, kompetensi interpersonal, dan integritas pribadi) dengan empat indikator profesionalitas guru BK (efektivitas hubungan konseling, kualitas layanan, pengambilan keputusan etis, dan kesinambungan pengembangan kompetensi). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap enam guru BK aktif anggota MGBK Lombok Timur, NTB, dilengkapi studi dokumentasi kegiatan MGBK Oktober 2025. Hasil menunjukkan bahwa keenam informan menempuh berbagai bentuk pengembangan diri (pelatihan Kurikulum Merdeka, workshop program layanan, bimbingan teknis asesmen, supervisi akademik, forum MGBK) yang konsisten berdampak positif terhadap kesadaran profesional, kompetensi interpersonal, dan integritas etika mereka, di tengah tantangan struktural berulang seperti miskonsepsi peran guru BK sebagai “polisi sekolah”, rasio siswa yang jauh melampaui kapasitas ideal, beban administratif, dan ambiguitas pembagian tugas dengan wali kelas. Telaah pustaka memperkuat temuan ini: kelima dimensi pengembangan pribadi berkorelasi konsisten dengan keberhasilan hubungan terapeutik, sementara beban administratif, ambiguitas peran, dan keterbatasan supervisi klinis menjadi penghambat struktural yang berulang muncul dalam literatur konseling sekolah, baik di Indonesia maupun mancanegara. Artikel ini menegaskan bahwa penguatan profesionalitas guru BK menuntut ekosistem pengembangan profesi yang secara sengaja memfasilitasi pertumbuhan pribadi konselor secara berkelanjutan dan didukung kebijakan satuan pendidikan.