This study examines the construction of meaning in Q.S. al-Fatihah in al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm by Tantawi Jauhari and its relevance to the idea of an inclusive civilization. It aims to explain the scientific character of Tantawi Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah and analyze its relationship with the social and intellectual context in which his interpretation emerged. This study employs a qualitative library research method with a descriptive-analytical approach and Karl Mannheim’s sociology of knowledge perspective. The findings show that Jauhari’s interpretation of Q.S. al-Fatihah goes beyond theological and normative meanings by connecting the Qur’anic text with natural phenomena, empirical knowledge, and human life. Its scientific character is evident in his interpretation of al-Raḥmān, al-Raḥīm, and Rabb al-‘ālamīn through reflections on macrocosmic and microcosmic phenomena. This interpretive framework is further directed toward the construction of a civilization that integrates religious and empirical knowledge, promotes intellectual openness, and reduces social and religious fragmentation. From Mannheim’s perspective, this orientation is closely related to the socio-intellectual context of colonial Egypt, the intellectual stagnation of Muslim societies, and the challenge posed by European scientific advancement. Therefore, al-Jawāhir represents an intellectual project that brings together faith, knowledge, and civilizational reform. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi makna Q.S. al-Fatihah dalam al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Tantawi Jauhari serta relevansinya terhadap gagasan peradaban inklusif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakter penafsiran ilmiah Jauhari dalam membaca Q.S. al-Fatihah sekaligus menganalisis keterkaitan konstruksi penafsirannya dengan kondisi sosial dan intelektual yang melingkupinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan perspektif sosiologi pengetahuan Karl Mannheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Tantawi Jauhari terhadap Q.S. al-Fatihah tidak berhenti pada pemaknaan teologis dan normatif, tetapi menghubungkan teks Al-Qur’an dengan fenomena alam, pengetahuan empiris, dan persoalan kehidupan manusia. Karakter saintifik tersebut tampak dalam upayanya memperluas makna al-Raḥmān, al-Raḥīm, dan Rabb al-‘ālamīn melalui refleksi terhadap fenomena makrokosmos dan mikrokosmos. Penafsiran tersebut kemudian diarahkan pada gagasan peradaban yang mengintegrasikan ilmu keagamaan dan ilmu empiris, mendorong keterbukaan intelektual, serta mengurangi fragmentasi sosial-keagamaan. Perspektif Mannheim menunjukkan bahwa orientasi tersebut berkaitan dengan konteks sosial-intelektual Mesir pada masa kolonial, stagnasi intelektual umat Islam, serta tantangan kemajuan sains Eropa. Dengan demikian, al-Jawāhir merepresentasikan proyek intelektual yang mempertemukan iman, ilmu, dan agenda pembaruan peradaban.