Penelitian ini bertujuan menganalisis realitas dakwah digital Husain Basyaiban di TikTok dalam perspektif paradigma ilmu dakwah. Penelitian dilatarbelakangi oleh banyaknya kajian mengenai Husain Basyaiban yang masih berfokus pada aspek metode, pesan, dan strategi komunikasi dakwah secara parsial, sehingga belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai praktik dakwah digitalnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan jenis penelitian meta-sintesis kualitatif. Data penelitian berupa berbagai publikasi ilmiah yang membahas dakwah digital Husain Basyaiban, meliputi artikel jurnal, skripsi, tesis, prosiding, serta dokumen akademik lain yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan studi kepustakaan, sedangkan analisis data menggunakan Qualitative Content Analysis yang dikembangkan oleh Philipp Mayring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik dakwah digital Husain Basyaiban merepresentasikan empat paradigma ilmu dakwah, yaitu paradigma komunikasi, paradigma transformasi sosial, paradigma pengembangan masyarakat, dan paradigma kultural. Paradigma komunikasi menjadi dimensi yang paling dominan melalui penggunaan bahasa sederhana, penyampaian dialogis, serta pemanfaatan karakteristik media digital untuk membangun interaksi dengan audiens. Sementara itu, paradigma transformasi sosial dan paradigma kultural tampak melalui upaya membangun kesadaran beragama sekaligus kemampuan mengadaptasi pesan Islam terhadap budaya komunikasi generasi digital. Adapun paradigma pengembangan masyarakat masih belum berkembang secara optimal karena dakwah lebih berorientasi pada peningkatan literasi keagamaan individu dibandingkan pemberdayaan komunitas. Penelitian ini menegaskan bahwa dakwah digital tidak hanya merupakan proses komunikasi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang transformasi sosial dan adaptasi budaya yang perlu dipahami secara integratif melalui paradigma ilmu dakwah.