Penelitian ini mengevaluasi penggunaan Functional Behavior Assessment (FBA) untuk merancang intervensi berbasis fungsi guna meningkatkan kehadiran sekolah pada remaja dengan perilaku berisiko. Penelitian menggunakan desain Single-Subject Research (SSR) A-B pada seorang siswa laki-laki berusia 16 tahun dengan ketidakhadiran persisten (~50% pada baseline) serta indikator perilaku berisiko yang dilaporkan sekolah dan keluarga. Pada fase A, FBA dilakukan melalui observasi Antecedent-Behavior-Consequence (ABC), wawancara semi-terstruktur dengan siswa, guru, dan orang tua, serta analisis scatterplot untuk merumuskan hipotesis fungsi ketidakhadiran sekolah. Hasil asesmen menunjukkan bahwa ketidakhadiran sekolah berfungsi sebagai mekanisme escape dari stres keluarga-sekolah yang dipersepsikan aversif serta regulasi emosi/sensori. Pada fase B, diterapkan intervensi berbasis fungsi yang mencakup modifikasi antecedent melalui perbaikan komunikasi orang tua-remaja, behavioral contract untuk target kehadiran harian, penguatan positif, serta perilaku pengganti berupa futsal setelah sekolah. Evaluasi dilakukan melalui inspeksi visual terhadap perubahan level dan stabilitas data antar fase. Hasil menunjukkan peningkatan kehadiran sekolah secara segera dari sekitar 50% pada baseline menjadi 100% selama intervensi, disertai keterlibatan konsisten dalam perilaku pengganti. Indikator psikososial (stabilitas suasana hati, kedisiplinan, keharmonisan keluarga) berdasarkan penilaian guru dan orang tua pada skala 1-5 juga membaik. Temuan ini mendukung penerapan intervensi FBA untuk menangani masalah ketidakhadiran sekolah pada remaja dengan perilaku berisiko.