Tuberkulosis (TB) anak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena mencerminkan adanya transmisi TB yang berlangsung di komunitas dan lingkungan rumah tangga. Kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi meningkatkan paparan anak terhadap droplet nuclei yang mengandung Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian TB pada anak usia 0–14 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Metro Pusat tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain case-control. Sampel berjumlah 192 responden, terdiri atas 96 kasus TB anak dan 96 kontrol. Variabel independen meliputi ventilasi rumah, kepadatan hunian, pencahayaan alami, kelembaban rumah, serta jenis lantai dan/atau dinding. Data dikumpulkan melalui telaah rekam medis, wawancara, observasi rumah, dan pengukuran lingkungan menggunakan meteran, lux meter, dan hygrometer. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil bivariat menunjukkan seluruh variabel lingkungan fisik rumah berhubungan bermakna dengan kejadian TB anak, yaitu ventilasi (OR=4,213; 95% CI=2,303–7,707), kepadatan hunian (OR=3,215; 95% CI=1,776–5,820), pencahayaan alami (OR=2,935; 95% CI=1,628–5,294), kelembaban (OR=4,411; 95% CI=2,406–8,085), serta jenis lantai dan/atau dinding (OR=3,462; 95% CI=1,895–6,335). Hasil multivariat menunjukkan kelembaban rumah merupakan faktor paling dominan (OR=4,791; 95% CI=2,310–9,936), diikuti ventilasi rumah (OR=4,702; 95% CI=2,250–9,826). Kesimpulan penelitian ini adalah faktor lingkungan fisik rumah berhubungan secara bermakna dengan kejadian TB anak. Intervensi pengendalian TB anak perlu mengintegrasikan investigasi kontak dengan promosi rumah sehat, khususnya pengendalian kelembaban dan perbaikan ventilasi.Kata kunci: TB anak; ventilasi rumah; kepadatan hunian; pencahayaan alami; kelembaban rumah.