Household waste management in Ngubalan Village, Kalidawir District, Tulungagung Regency, is still predominantly carried out independently through burning, disposal, or the sale of selected recyclable plastics to local collectors. This community service aimed to strengthen environmental awareness and community economic empowerment through source-based waste sorting and the 3R (reduce, reuse, recycle) framework, with practical emphasis on reusing inorganic waste as marketable products within an Islamic circular economy perspective grounded in Islamic ecotheology. The program involved members of the Family Welfare Empowerment (PKK) group and was implemented on 8 August 2026 at the Ngubalan Village Hall. The activity used an Asset-Based Community Development (ABCD) approach, mapped into discovery, dream, design, define, and destiny stages, supported by observation, education, participatory discussion, hands-on practice, and documentation. Of 50 invited participants, 42 attended (84%). Participants practiced sorting organic and inorganic waste and converting used water gallons into flower pots. Ten pots were produced, with an estimated selling price of IDR 30,000 per unit. Observations and interactive discussions indicated that participants could identify recyclable inorganic waste, understand its economic potential, and relate waste utilization to Islamic ecotheological values of khalifah (stewardship), anti-israf, mizan (balance), maslahah (public benefit), ta'awun, and lawful income generation. The activity directly operationalized reuse and source sorting as a prerequisite for recycling, while waste reduction and sustained household behavior require follow-up. The program demonstrates that locally available waste, community skills, and PKK social networks can become practical assets for environmentally responsible and economically productive community empowerment. Abstrak: Pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Ngubalan, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, masih didominasi pengelolaan mandiri melalui pembakaran, pembuangan, atau penjualan sebagian plastik bernilai jual kepada pengepul. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat melalui pemilahan sampah dari sumber dan kerangka 3R (reduce, reuse, recycle), dengan penekanan praktik pada pemanfaatan ulang sampah anorganik menjadi produk bernilai ekonomi dalam perspektif ekonomi sirkular syariah yang berlandaskan ekoteologi Islam. Kegiatan dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 di Balai Desa Ngubalan dengan sasaran ibu-ibu PKK. Pendekatan yang digunakan adalah Asset-Based Community Development (ABCD), dengan rangkaian kegiatan dipetakan dalam tahapan discovery, dream, design, define, dan destiny serta didukung observasi, edukasi, diskusi partisipatif, praktik, dan dokumentasi. Dari 50 undangan, 42 peserta hadir atau mencapai 84%. Peserta mempraktikkan pemilahan sampah organik-anorganik dan pengolahan galon bekas menjadi pot bunga. Kegiatan menghasilkan 10 pot dengan estimasi harga jual Rp30.000 per unit. Berdasarkan observasi dan diskusi interaktif, peserta mampu mengenali sampah anorganik yang dapat dimanfaatkan, memahami potensi ekonominya, serta mengaitkan pemanfaatan sampah dengan nilai ekoteologi Islam berupa khalifah, anti-israf, mizan, maslahah, ta'awun, dan peluang memperoleh pendapatan halal. Kegiatan secara langsung mengoperasionalkan reuse dan pemilahan sebagai prasyarat recycle, sedangkan aspek reduce dan keberlanjutan perilaku rumah tangga memerlukan tindak lanjut. Kegiatan menunjukkan bahwa sampah, keterampilan warga, dan jejaring sosial PKK dapat menjadi aset lokal untuk membangun pemberdayaan yang ramah lingkungan dan produktif. Kata Kunci: Asset-Based Community Development, ekonomi sirkular syariah, ekoteologi Islam, sampah anorganik, pemberdayaan masyarakat