Tempurung kelapa tidak hanya berakhir sebagai sisa hasil pengolahan, tetapi dapat ditransformasikan menjadi arang yang selanjutnya diolah menjadi briket dengan nilai jual yang lebih tinggi. Pemanfaatan tersebut mendorong tumbuhnya berbagai kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi. Salah satu usaha yang menjalankan kegiatan tersebut adalah CV Hikmah melalui pengolahan arang tempurung kelapa menjadi briket. Meskipun aktivitas produksi telah berlangsung secara berkelanjutan, informasi yang menggambarkan susunan biaya produksi serta pendapatan yang diperoleh usaha masih belum tersedia secara terperinci. Atas dasar itu, kajian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai komponen biaya produksi dan besarnya pendapatan yang dihasilkan oleh usaha briket pada CV Hikmah. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Februari–April 2026 di CV Hikmah yang berlokasi di Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Informasi penelitian dihimpun melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan data perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Selanjutnya, data yang terkumpul diolah melalui analisis biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usaha. Dalam satu bulan, jumlah briket yang dihasilkan mencapai 75.000 kg dengan harga jual Rp30.000 per kilogram. Kondisi tersebut menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp2.250.000.000 per bulan. Pengeluaran produksi yang tercatat terdiri atas biaya tetap rata-rata Rp12.000.000 per bulan dan biaya variabel rata-rata Rp1.284.500.000 per bulan, sehingga kebutuhan biaya produksi secara keseluruhan mencapai Rp1.296.500.000 per bulan. Setelah seluruh pengeluaran produksi diperhitungkan, usaha ini memperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp953.500.000 per bulan.