ABSTRAK Mata air Perembukan di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, merupakan sumber air yang sekaligus dipahami masyarakat sebagai ruang sakral. Penelitian ini bertujuan menganalisis sejarah munculnya kesakralan mata air Perembukan, bentuk-bentuk pelestarian yang dilakukan masyarakat, serta manfaat dan dinamika kepercayaan tersebut dalam kehidupan kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosial dalam metode sejarah. Pengumpulan sumber dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus desa, dan warga, serta dokumentasi. Data selanjutnya melalui kritik sumber internal dan eksternal, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesakralan Perembukan dipelihara melalui ingatan kolektif mengenai pengalaman spiritual tetua adat dan keyakinan terhadap keberadaan kekuatan supranatural di sekitar mata air. Eksistensinya tidak bersifat statis: ritual pengobatan dan kegiatan 1 Muharram mulai berkurang frekuensinya, tetapi praktik doa, sesajen, gotong royong membersihkan kawasan, serta penanaman pohon masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Mata air juga berfungsi sebagai sumber air domestik dan irigasi, ruang ritual, simbol warisan budaya, serta media pengikat relasi sosial. Dengan demikian, keberlanjutan mata air Perembukan bertumpu pada pertemuan antara kepercayaan, identitas budaya, dan praktik konservasi berbasis masyarakat. Pelestariannya memerlukan pewarisan antargenerasi sekaligus pengelolaan lingkungan yang lebih terstruktur agar nilai budaya dan fungsi ekologis dapat dipertahankan secara bersamaan.