Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perilaku Konsumsi Minuman Kemasan Sebagai Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik pada Siswa SMA Kota Bengkulu Ikhsan Ikhsan; Titin Aprilatutini; Tessa Kapia Ulandari
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1649

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat secara global. Perubahan pola konsumsi remaja, terutama meningkatnya konsumsi minuman berpemanis seperti minuman bersoda dan minuman berenergi, diduga berkontribusi terhadap peningkatan faktor risiko GGK melalui mekanisme gangguan metabolik dan penurunan fungsi ginjal. Informasi mengenai pola konsumsi minuman kemasan pada remaja di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku konsumsi minuman kemasan sebagai faktor risiko penyakit ginjal kronik pada siswa SMAN 1 Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 90 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportional strafed random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data  deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar responden berusia 16 tahun (46,9%), berjenis kelamin perempuan (53,1%), dan memiliki status ekonomi keluarga sedang (66,3%). Sebanyak 50,0% responden jarang mengonsumsi minuman bersoda, 54,4% jarang mengonsumsi minuman berenergi, sedangkan 45,6% hanya mengonsumsi air putih sebanyak 1000 – 1999 ml per hari. Sebagian besar responden (91,9%) tidak memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga. Meskipun mayoritas siswa berada pada kategori jarang mengonsumsi minuman berpemanis, masih terdapat kelompok remaja yang mengonsumsi minuman tersebut setiap hari serta memiliki konsumsi air putih yang belum optimal.