An Nisa Nuri Prihasti
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Essential Newborn Care pada Bayi Berat Lahir Cukup (BBLC) Lahir Sectio Caesarea: Laporan Kasus An Nisa Nuri Prihasti; Kautsar Prastudia Eko Binuko
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi Berat Lahir Cukup (BBLC) merupakan bayi dengan berat lahir 2500-4000 gram dan usia kehamilan aterm yang umumnya memiliki prognosis baik, namun tetap memerlukan pemantauan ketat pada masa transisi awal kehidupan untuk mencegah komplikasi ringan neonatal. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan perawatan neonatal esensial pada bayi BBLC guna mendukung adaptasi fisiologis dan keberhasilan menyusui dini. Dilaporkan seorang bayi laki-laki BBLC lahir melalui sectio caesarea dari ibu primigravida usia 23 tahun dengan indikasi cephalopelvic disproportion pada usia kehamilan 40-41 minggu. Bayi lahir dengan kondisi klinis baik, APGAR score 7-8-9, menangis kuat, aktif, dan tanpa tanda distres. Pemeriksaan fisik serta Skor Ballard sesuai usia gestasi 40 minggu. Tatalaksana dilakukan berdasarkan prinsip Essential Newborn Care, meliputi perawatan tali pusat, pemberian vitamin K, salep mata, imunisasi hepatitis B dosis awal, serta pemantauan tanda vital dan eliminasi. Inisiasi menyusu dini belum dilakukan karena kondisi ibu pascaoperatif, namun bayi mampu menyusu aktif setelah rawat gabung. Selama masa observasi tidak ditemukan komplikasi, dan skrining hipotiroid kongenital telah dilakukan. Bayi dipulangkan dalam kondisi sehat dan menyusu baik. Simpulan, penerapan perawatan neonatal esensial secara sistematis disertai observasi ketat dan edukasi ibu berperan penting dalam menjamin adaptasi fisiologis optimal serta mendukung keberhasilan ASI eksklusif pada bayi BBLC.
Gangguan Kepribadian Ambang dan Depresi Berat pada Remaja Putri Usia 15 Tahun: Laporan Kasus Ishmah Nur Faizah; An Nisa Nuri Prihasti; M. Hilmi Efendi; Andri Nurdiyana Sari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder/BPD) merupakan kondisi yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, impulsivitas, serta hubungan interpersonal yang disfungsional dan sering berkomorbid dengan gangguan depresif. Komorbiditas ini meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri dan bunuh diri, khususnya pada populasi remaja. Laporan ini menyajikan kasus seorang remaja putri berusia 15 tahun yang datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan mengamuk dan perilaku self-harm. Selama beberapa bulan terakhir, pasien mengalami gejala depresif berupa afek sedih menetap, kehilangan minat, kelelahan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, serta perilaku melukai diri berulang. Faktor psikososial, termasuk konflik pertemanan, perasaan ditolak, dan kurangnya dukungan emosional, berperan dalam memperberat kondisi klinis. Pemeriksaan status mental menunjukkan hipotimia, afek depresif serasi, impulsivitas, serta gangguan pengendalian emosi tanpa disertai gejala psikotik. Diagnosis ditegakkan sebagai episode depresif berat tanpa gejala psikotik dan gangguan kepribadian ambang, dengan masalah pendidikan sebagai faktor stres dan skor GAF 11-20. Pasien mendapatkan terapi farmakologis kombinasi antidepresan dan antipsikotik, disertai psikoedukasi intensif kepada keluarga mengenai kepatuhan pengobatan dan pentingnya dukungan emosional. Laporan ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif pada remaja dengan depresi dan self-harm, mengingat tumpang tindih gejala BPD. Pendekatan multidisiplin, psikoterapi jangka panjang, dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk menurunkan risiko self-harm dan memperbaiki prognosis pasien remaja.