Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder/BPD) merupakan kondisi yang ditandai oleh ketidakstabilan emosi, impulsivitas, serta hubungan interpersonal yang disfungsional dan sering berkomorbid dengan gangguan depresif. Komorbiditas ini meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri dan bunuh diri, khususnya pada populasi remaja. Laporan ini menyajikan kasus seorang remaja putri berusia 15 tahun yang datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan mengamuk dan perilaku self-harm. Selama beberapa bulan terakhir, pasien mengalami gejala depresif berupa afek sedih menetap, kehilangan minat, kelelahan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, perasaan tidak berharga, serta perilaku melukai diri berulang. Faktor psikososial, termasuk konflik pertemanan, perasaan ditolak, dan kurangnya dukungan emosional, berperan dalam memperberat kondisi klinis. Pemeriksaan status mental menunjukkan hipotimia, afek depresif serasi, impulsivitas, serta gangguan pengendalian emosi tanpa disertai gejala psikotik. Diagnosis ditegakkan sebagai episode depresif berat tanpa gejala psikotik dan gangguan kepribadian ambang, dengan masalah pendidikan sebagai faktor stres dan skor GAF 11-20. Pasien mendapatkan terapi farmakologis kombinasi antidepresan dan antipsikotik, disertai psikoedukasi intensif kepada keluarga mengenai kepatuhan pengobatan dan pentingnya dukungan emosional. Laporan ini menekankan pentingnya evaluasi komprehensif pada remaja dengan depresi dan self-harm, mengingat tumpang tindih gejala BPD. Pendekatan multidisiplin, psikoterapi jangka panjang, dan keterlibatan keluarga diperlukan untuk menurunkan risiko self-harm dan memperbaiki prognosis pasien remaja.