Taman Wisata Alam Buluh Cina memiliki fungsi ekologis sebagai daerah tangkapan air serta berpotensi untuk pengembangan dan pemanfaatan sumber daya air. Dibalik potensinya TWA menghadapi ancaman dari perambahan lahan, pembakaran hutan, dan eksploitasi sumber daya alam secara illegal seiring dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan konversi lahan alam, sehingga membutuhkan peran antar aktor dalam pengelolaan dan pemanfaatan jasa lingkungan air yang tepat agar memberikan dampak signifikan pada masyarakat dan kawasan. Pemanfaatan jasa lingkungan air sangat dipengaruhi oleh interaksi serta peran strategis berbagai aktor yang terlibat dalam pengelolaannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis MACTOR (Matrix of Alliance and Conflict: Tactics, Objectives, and Recommendations) untuk mengkaji keseimbangan kekuatan, tingkat pengaruh, serta ketergantungan antar aktor. Hasil analisis mengidentifikasi sepuluh aktor utama dan terdapat dua aktor dominan yang berada pada Kuadran I, yaitu BBKSDA Riau dan masyarakatat, kedua aktor tersebut berperan sebagai pusat otonomi dalam pengambilan keputusan kebijakan dan memiliki keterlibatan langsung dalam pengelolaan teknis kawasan. Sementara itu, aktor yang termasuk dalam kuadran II meliputi pemerintah desa, Pokdarwis, BPDAS, BWSS, Dispar, dan DLHK. Aktor-aktor ini memiliki potensi besar dalam memengaruhi sistem, namun pada saat yang sama juga memiliki tingkat ketergantungan yang relatif tinggi terhadap aktor lainnya. Secara umum, seluruh aktor menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi terhadap tujuan pengelolaan berkelanjutan, khususnya dalam aspek pengelolaan sumber daya air, pengembangan pariwisata, dan pelibatan masyarakat lokal. Tingkat konvergensi tertinggi yaitu BBKSDA Riau, pemerintah desa, dan Pokdarwis. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penerapan kerangka tata kelola kolaboratif sebagai pendekatan strategis untuk memastikan pemanfaatan jasa lingkungan air yang berkelanjutan di TWA Buluh Cina.