Maya Amalia Oesman Palapah
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Srikandi Movement PLN UP3 Bandung Hanif Ariq; Maya Amalia Oesman Palapah
Bandung Conference Series: Public Relations 313-324
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25270

Abstract

Abstract. This research aims to analyze the communication effectiveness of the "Srikandi Movement Goes to School" program organized by PLN UP3 Bandung at SMA 7 Pasundan Bandung. Using a descriptive quantitative approach, this study evaluates communication through six main indicators: Receiver, Content, Media, Format, Source, and Timing. The research population consisted of 12th-grade students at SMA 7 Pasundan Bandung, with samples selected using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires using a Likert scale and analyzed using descriptive percentage analysis. The results indicate that the overall communication effectiveness of the program is in the "Good" category, with an average score of 3.10. Among the indicators, the Media indicator received the highest score (3.23), while the Content indicator received the lowest average score (2.99). These findings suggest that the program successfully delivered its message effectively, although improvements in the relevance and depth of the material are recommended to optimize student benefits. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komunikasi pada program Srikandi Movement Goes to School yang diselenggarakan oleh PLN UP3 Bandung di SMA 7 Pasundan Bandung. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini mengevaluasi komunikasi melalui enam indikator utama: Penerima Pesan (Receiver), Isi Pesan (Content), Media Pesan (Media), Format Pesan (Format), Sumber Pesan (Source), dan Ketepatan Waktu (Timing). Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 3 SMA 7 Pasundan Bandung, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan Skala Likert dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi program secara keseluruhan berada pada kategori "Baik" dengan skor rata-rata 3,10. Di antara indikator yang diteliti, indikator Media memperoleh skor tertinggi (3,23), sedangkan indikator Isi Pesan memperoleh rata-rata terendah (2,99). Temuan ini menunjukkan bahwa program telah berhasil menyampaikan pesan secara efektif, meskipun diperlukan peningkatan pada aspek relevansi dan kedalaman materi untuk mengoptimalkan manfaat bagi siswa.
Komunikasi Konflik Emosional Keluarga Non-Biologis Muhammad Sultan Alfiansyah; Maya Amalia Oesman Palapah
Bandung Conference Series: Public Relations 359-366
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25366

Abstract

Abstract. This study examines how emotional conflict is represented in the communication of a non-biological family in the Chinese drama Go Ahead. Non-biological or chosen families are increasingly visible in popular media, yet their closeness is often accompanied by intense emotional friction that has rarely been examined through a communication lens. This research aims to identify the forms of emotional conflict displayed among the main characters and to interpret the meaning of that conflict within their family relationship. A qualitative approach with content analysis was used. Data were collected through repeated observation and documentation of scenes and dialogues across the drama's episodes that display expressions of anger, disappointment, jealousy, and worry. The findings show that emotional conflict, particularly disappointment, is the most dominant form appearing in the characters' interactions, and that these conflicts consistently emerge around moments of separation, unmet expectations, and perceived threats to closeness. Rather than signaling relational fragility, recurring emotional conflict functions as a marker of attachment, since its intensity corresponds to the depth of the bond among the characters. The study concludes that in a non-biological family, interpersonal communication quality, more than blood ties, determines how emotional conflict is expressed, negotiated, and resolved into stronger relational commitment.   Abstrak. Penelitian ini mengkaji bagaimana konflik emosional direpresentasikan dalam komunikasi keluarga non-biologis pada drama Cina Go Ahead. Keluarga non-biologis atau chosen family semakin banyak ditampilkan dalam media populer, namun kedekatan yang terbentuk kerap diiringi gesekan emosional yang intens dan belum banyak dikaji dari perspektif komunikasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk konflik emosional yang ditampilkan oleh tokoh utama serta memaknai konflik tersebut dalam konteks relasi keluarga mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi secara berulang terhadap adegan dan dialog di sepanjang episode drama yang menampilkan ekspresi kemarahan, kekecewaan, kecemburuan, dan kekhawatiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik emosional, khususnya kekecewaan, merupakan bentuk yang paling dominan muncul dalam interaksi antartokoh, dan konflik tersebut secara konsisten muncul di sekitar momen perpisahan, harapan yang tidak terpenuhi, serta ancaman terhadap kedekatan yang dirasakan. Alih-alih menandakan kerapuhan hubungan, konflik emosional yang berulang justru berfungsi sebagai penanda kelekatan, karena intensitasnya berbanding lurus dengan kedalaman ikatan antartokoh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam keluarga non-biologis, kualitas komunikasi interpersonal, lebih daripada ikatan darah, menentukan bagaimana konflik emosional diekspresikan, dinegosiasikan, dan diselesaikan menjadi komitmen relasional yang lebih kuat.
Inovasi Layanan Publik melalui Aplikasi LAPNAJEL Hotline Service di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Bandung Syavira Najwa Filzainia; Maya Amalia Oesman Palapah
Bandung Conference Series: Public Relations 509-516
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.26014

Abstract

Abstract. This study aims to analyze public service innovations at the Class IIA Drug Rehabilitation Center in Bandung using the SERVQUAL model developed by Parasuraman, Zeithaml, and Berry (1988). The research method used is qualitative descriptive, with information collection techniques consisting of interviews conducted with staff at the Class IIA Drug Rehabilitation Center in Bandung. This study measures five dimensions of service quality, namely: tangibles (physical evidence), reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Based on in-depth interviews with the two key informants, the delivery of public services through the Lapnajel Hotline Service application has generally been running well. The public relations officer stated that the presence of this application has brought about tangible changes in the interactions between inmates and their families, which previously relied heavily on in-person visits. However, the visitation guards acknowledged that inconsistencies in scheduling and the timeliness of services remain common complaints from visitors, primarily due to limited internet connectivity.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi pelayanan publik di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bandung dengan menggunakan pendekatan model SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan informasi berupa wawancara kepada staff Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung. Penelitian ini mengukur lima dimensi kualitas pelayanan, yaitu: tangibles (bukti fisik), reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empathy (empati). Berdasarkan hasil wawancara dengan dua key informan, penyelenggaraan layanan publik melalui aplikasi Lapnajel Hotline Service secara umum telah berjalan dengan baik. Kehadiran aplikasi ini membawa perubahan nyata dalam interaksi antara warga binaan dengan keluarganya yang sebelumnya sangat bergantung pada kunjungan fisik. Meski demikian, konsistensi jadwal dan ketepatan waktu layanan masih menjadi kendala yang kerap dikeluhkan pengunjung, terutama akibat keterbatasan jaringan internet.