Rini Rinawati
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menjaga Keharmonisan Keluarga: Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Mahasiswa Perantau Masarrah Nurul Azizah; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations 375-382
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25449

Abstract

Abstract. Migration is a growing social phenomenon in the era of globalization, with advances in communication technology enabling parents and children to maintain connections across distances. Many families now pursue education outside their home regions, yet the physical and emotional presence of parents remains important for family harmony. This study examines how long-distance parents and children exchange verbal and nonverbal messages to maintain harmonious relationships. Employing a descriptive qualitative method, data were collected through interviews, observations, and documentation. The research focuses on identifying communication patterns, factors influencing message effectiveness, and family adaptations to preserve harmony. Findings are analyzed using Herbert Blumer’s Symbolic Interaction Theory to understand how symbolic meanings are formed in remote communication, and John Bowlby’s Attachment Theory to explore how emotional bonds are sustained despite separation. The results are expected to offer a comprehensive picture of the communication processes within migrant families and provide practical recommendations for maintaining family harmony across distances. Abstrak. Migrasi adalah fenomena sosial yang semakin berkembang di era globalisasi, dengan kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan orang tua dan anak untuk menjaga hubungan meskipun terpisah jarak. Banyak keluarga sekarang mengejar pendidikan di luar daerah asal mereka, namun kehadiran fisik dan emosional orang tua tetap penting untuk keharmonisan keluarga. Studi ini meneliti bagaimana orang tua dan anak yang terpisah jarak jauh bertukar pesan verbal dan nonverbal untuk menjaga hubungan yang harmonis. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini berfokus pada mengidentifikasi pola komunikasi, faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pesan, dan adaptasi keluarga untuk menjaga keharmonisan. Temuan dianalisis menggunakan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer untuk memahami bagaimana makna simbolik terbentuk dalam komunikasi jarak jauh, dan Teori Keterikatan John Bowlby untuk mengeksplorasi bagaimana ikatan emosional dipertahankan meskipun terpisah. Hasilnya diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang proses komunikasi dalam keluarga migran dan memberikan rekomendasi praktis untuk menjaga keharmonisan keluarga meskipun terpisah jarak.
Konstruksi Identitas Diri Blink melalui Pengalaman Menonton Konser Blackpink ‘Deadline’ Meisya Dinnah Putri; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations 435-444
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25837

Abstract

Abstract. This study aims to understand the process of self-identity construction among Blackpink fans, known as Blink, through their experience of attending the 'Deadline' concert. Utilizing a qualitative methodology with a phenomenological approach, the research explores the subjective experiences of fans focusing on the synthesized findings regarding their motives, language style, dressing style, and concert experiences. The findings reveal that fan motives consist of historical roots (because-of motive) and future-oriented goals (in-order-to motive). Language style adaptation shows two patterns: situational usage within the community and universal usage in daily communication. Furthermore, the dressing style reflects a hybrid identity combining collective fandom symbols with personal preferences. Ultimately, the live concert experience serves as an emotional catalyst that reinforces and redefines their self-concept. The study concludes that the self-identity of a Blink is a continuous, dynamic process deeply intertwined with their social environment and cultural adaptation.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses konstruksi identitas diri penggemar Blackpink, yang dikenal sebagai Blink, melalui pengalaman menonton konser 'Deadline'. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman subjektif penggemar yang berfokus pada hasil temuan terkait motif, gaya bahasa, gaya berpakaian, dan pengalaman menonton konser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif penggemar terbentuk dari akar masa lalu (because-of motive) dan orientasi tujuan (in-order-to motive). Adaptasi gaya bahasa menunjukkan dua pola: situasional di dalam komunitas dan menyeluruh dalam komunikasi harian. Selanjutnya, gaya berpakaian mencerminkan identitas hibrida yang menggabungkan simbol kolektif fandom dengan preferensi personal. Pada akhirnya, pengalaman menonton konser secara langsung berfungsi sebagai katalis emosional yang memperkuat dan mendefinisikan ulang konsep diri mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas diri seorang Blink adalah proses yang berkelanjutan, dinamis, dan terikat erat dengan lingkungan sosial serta adaptasi budaya mereka.