Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi kepemimpinan Bendesa Adat Padangkeling dalam meningkatkan efektivitas kinerja prajuru, mengidentifikasi hambatan komunikasi, serta mengkaji implikasinya terhadap pelaksanaan tugas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif naratif dengan data yang diperoleh melalui observasi nonpartisipan, wawancara, dokumentasi, dan penelaahan dokumen. Informan dipilih secara purposive dan terdiri atas Bendesa Adat serta jajaran prajuru. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi mencerminkan empat dimensi kepemimpinan transformasional melalui paruman, rapat koordinasi, komunikasi interpersonal, WhatsApp Group, juru arah, serta pendekatan personal dan keteladanan berbasis Tri Kaya Parisudha dan ngayah. Kebaruan penelitian terletak pada pola komunikasi situasional yang mengintegrasikan media digital dan komunikasi adat dengan keteladanan serta nilai lokal dalam mengelola kerja sama dan kedisiplinan prajuru. Hambatan komunikasi meliputi aspek mekanik, semantik, dan manusiawi. Strategi tersebut berimplikasi positif terhadap kualitas dan kuantitas kerja, ketepatan waktu, efektivitas pemanfaatan sumber daya, serta kemandirian dan tanggung jawab prajuru. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi dua arah, pemilihan media sesuai karakter pesan, dan pendekatan personal dalam tata kelola desa adat. This study aims to analyze the leadership communication strategies of the Bendesa Adat of Padangkeling in improving prajuru performance, identifying communication barriers, and examining their implications for task implementation. A qualitative descriptive-narrative approach was employed, with data collected through non-participant observation, interviews, documentation, and document review. Informants were purposively selected from the Bendesa Adat and prajuru. Data credibility was assessed through source, method, and theoretical triangulation. The findings show that the communication strategy reflects four dimensions of transformational leadership through paruman, coordination meetings, interpersonal communication, WhatsApp Group, juru arah, personal guidance, and role modeling grounded in Tri Kaya Parisudha and ngayah. The novelty lies in a situational communication pattern that integrates digital and traditional communication with moral role modeling and local values to manage prajuru cooperation and discipline. Communication barriers include mechanical, semantic, and human factors. The strategy has positive implications for work quality and quantity, timeliness, resource-use effectiveness, and prajuru independence and responsibility. These findings highlight the importance of two-way communication, message-appropriate media selection, and personal guidance in traditional-village governance.