Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Hukum Administrasi Negara Berdasarkan Inpres 9/2025 Tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih setyo utomo; Siswadi; Aleksander Sebayang
Jurnal Kolaborasi Sains dan Ilmu Terapan Vol. 5 No. 1.1 (2026): SPECIAL ISSUE
Publisher : Utiliti Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan tata kelola administrasi pemerintahan dalam pelaksanaan kebijakan nasional yang melibatkan koordinasi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemerintah desa. Fokus penelitian diarahkan pada analisis kedudukan Instruksi Presiden dalam sistem hukum nasional, kewenangan Presiden dalam pembentukan kebijakan administrasi negara, serta kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Hukum Administrasi Negara dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode deskriptif-analitis melalui kajian kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menafsirkan ketentuan peraturan-undangan, doktrin hukum administrasi negara, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 bukan merupakan peraturan-undangan yang membentuk norma hukum baru, melainkan instrumen kebijakan administrasi yang bersifat mengikat secara internal bagi aparatur pemerintahan sebagai sarana koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional. Kewenangan Presiden dalam menerbitkan Instruksi Presiden tersebut bersumber dari atribusi konstitusional berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan digunakan untuk mengintegrasikan pelaksanaan tugas kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Penelitian juga menemukan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh efektivitas koordinasi antarlembaga, pemenuhannya administrasi, ketersediaan sumber daya, dukungan pendanaan, serta mekanisme pengawasan dan evaluasi yang berorientasi pada prinsip transparansi, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, dan partisipasi publik. Oleh karena itu, penguatan tata kelola kolaboratif (collaborative governance) dan penerapan prinsip good governance menjadi prasyarat penting dalam mewujudkan keberhasilan implementasi kebijakan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara berkelanjutan.
Determinan Percepatan Regenerasi Petani Pada Gapoktan Madiun Bersatu Di Desa Parit Keladi sigit sugiardi; Setyo Utomo; Siswadi; Aleksander Sebayang
Jurnal Kolaborasi Sains dan Ilmu Terapan Vol. 5 No. 1.1 (2026): SPECIAL ISSUE
Publisher : Utiliti Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Regenerasi petani merupakan isu strategis dalam pembangunan pertanian secara nasional. Fenomena di Desa Parit Keladi, di mana dominasi petani usia lanjut berpotensi menghambat keberlanjutan usaha tani dan kelembagaan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang memengaruhi percepatan regenerasi petani pada Gapoktan Madiun Bersatu, meliputi faktor sosial, ekonomi, kelembagaan, psikologis, dan lingkungan pendukung. Alasan penelitian ini didasarkan pada pentingnya regenerasi petani sebagai prasyarat keberlanjutan sistem pertanian dan ketahanan pangan, serta masih terbatasnya kajian empiris yang secara spesifik menganalisis percepatan regenerasi petani berbasis kelembagaan gapoktan di tingkat desa. Permasalahan utama penelitian ini adalah rendahnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan pertanian dan kelembagaan gapoktan, serta belum teridentifikasinya faktor-faktor kunci yang secara signifikan memengaruhi minat dan keterlibatan mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei terhadap anggota Gapoktan Madiun Bersatu, termasuk petani muda dan petani senior. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menguji hubungan kausal antar variabel determinan percepatan regenerasi petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor sosial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap percepatan regenerasi petani. Faktor ekonomi menunjukkan pengaruh paling dominan terhadap percepatan regenerasi petani. Faktor kelembagaan menunjukkan pengaruh signifikan terhadap regenerasi petani. Faktor psikologis memiliki pengaruh signifikan terhadap regenerasi petani. Secara simultan, keempat faktor (sosial, ekonomi, kelembagaan, dan psikologis) mampu menjelaskan 68,2% variasi percepatan regenerasi petani (R² = 0,682). Angka ini menunjukkan bahwa model penelitian memiliki kemampuan prediksi yang baik, sementara 31,8% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian