Latar belakang: Perusahaan layanan inspeksi dan sertifikasi sangat bergantung pada kualitas tenaga kerja mereka, karena akurasi teknis, kepatuhan terhadap standar, dan layanan yang cepat merupakan faktor penting untuk menjaga kredibilitas organisasi. Menurut data survei keterlibatan karyawan, meskipun tingkat keterlibatan karyawan meningkat, beberapa atribut manajemen SDM seperti kompensasi, manajemen kinerja, dan manajemen talenta justru menurun. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan SDM dan karier karyawan, Hal ini memengaruhi kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Tujuan: Studi ini bertujuan menganalisis dampak kepuasan kerja, manajemen kinerja, dan manajemen talenta terhadap kinerja karyawan dengan menggunakan kepuasan kerja sebagai parameter. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif, desain studi deskriptif, dan teknik sampling acak berstrata proporsional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang didistribusikan kepada 255 karyawan dan dianalisis menggunakan pemodelan persamaan struktural (PLS-SEM). Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kompensasi, manajemen kinerja, dan manajemen talenta memiliki dampak positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Selain itu, ketiga variabel ini memiliki dampak positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Kepuasan kerja telah terbukti bertindak sebagai mediator parsial dalam hubungan antara kompensasi, manajemen kinerja, manajemen talenta, dan kinerja karyawan. Di antara ketiga variabel ini, manajemen talenta memiliki dampak paling langsung terhadap kinerja karyawan. Hasil ini menunjukkan bahwa praktik manajemen SDM yang efektif meningkatkan kepuasan kerja dan berkontribusi pada peningkatan kinerja karyawan. Kesimpulan: Perusahaan harus mengintegrasikan sistem kompensasi, manajemen kinerja, dan pengembangan talenta untuk mendukung evaluasi peningkatan kinerja dan layanan sertifikasi.