This community service activity aimed to conduct early detection through hematological profiling and to enhance health awareness among the Baduy community in Lebak Regency, Banten. The activities were carried out integratively, comprising health education, venous blood sampling, laboratory examinations, and individualized result counseling. Of the 58 adult participants, the majority were female (74.1%), with a mean age of 39.45 ± 17.01 years. The findings showed an overall mean hemoglobin level of 11.75 ± 1.25 g/dL, mean level for males and females were 11.8 g/dL (SD 1.12) and 11.72 g/dL (SD 1.29) respectively; hematocrit level was 34.81 ± 3.80%, with mean level of 34.87% (SD 3.44) in males and 34.79% (SD 3.96) in females; leukocyte count of 9.06×10³ ± 2.29×10³ cells/µL; and platelet count of 3.12×10⁵ ± 0.66×10⁵ cells/µL. These data indicate that the majority of participants were experiencing anemia. The implementation of screening accompanied by education, provided the community with essential knowledge and increased their awareness of hematological disorder risk factors. The involvement of Baduy traditional leaders and local health cadres further strengthened the program’s success through culturally aligned approaches. This initiative underscores that hematological profile screening is an appropriate promotive–preventive strategy for the early detection of health problems, while also serving as a model for strengthening community-based health services in indigenous territory. ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini melalui profil hematologi dan meningkatkan kesadaran kesehatan dan pada komunitas Baduy di Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan dilakukan secara terpadu dengan melakukan penyuluhan kesehatan, pengambilan sampel darah vena, pemeriksaan laboratorium, dan konseling hasil individual. Dari total 58 partisipan dewasa, sebagian besar berjenis kelamin perempuan (74,1%) dengan rerata usia 39,45±17,01 tahun. Hasil menunjukkan rerata kadar hemoglobin secara keseluruhan 11,75±1,25 g/dL, rerata pada laki-laki dan perempuan adalah sebesar 11,8 g/dL (SD 1,12) dan 11,72 g/dL (SD 1,29), hematokrit 34,81±3,80%, dengan rerata pada laki-laki sebesar 34,87% (SD 3,44) dan perempuan 34,79% (SD 3,96), leukosit 9,06×10³±2,29×10³ sel/µL, dan trombosit 3,12×10⁵±0,66×10⁵ sel/µL. Terdapat 39 dari 58 partisipan mengalami anemia. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar partisipan menderita anemia. Pelaksanaan skrining disertai edukasi memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan dapat meningkatkan kesadaran mereka terhadap faktor risiko kelainan hematologi. Keterlibatan tokoh adat dan kader kesehatan Baduy memperkuat keberhasilan program melalui pendekatan budaya yang selaras dengan nilai lokal. Kegiatan ini menegaskan bahwa skrining profil hematologi merupakan strategi promotif–preventif yang sesuai untuk mendeteksi masalah kesehatan secara dini, sekaligus menjadi model penguatan layanan kesehatan berbasis komunitas di wilayah adat.