Perkembangan teknologi digital di lingkungan kerja meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis yang dikenal sebagai technostress, yang berpotensi mendorong cyberloafing sebagai bentuk pengalihan dari tekanan kerja dan pada akhirnya berkontribusi terhadap prokrastinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh technostress terhadap prokrastinasi dan cyberloafing, pengaruh cyberloafing terhadap prokrastinasi, serta peran mediasi cyberloafing dalam hubungan antara technostress dan prokrastinasi pada pekerja remote. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 385 responden pekerja remote maupun hybrid berusia 17–40 tahun dan memiliki pengalaman kerja remote minimal enam bulan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis dengan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui SmartPLS 4.0. Hasil menunjukkan technostress berpengaruh positif signifikan terhadap prokrastinasi (β = 0,310; T = 6,471; p < 0,001) dan terhadap cyberloafing (β = 0,421; T = 10,051; p < 0,001), serta cyberloafing berpengaruh positif signifikan terhadap prokrastinasi (β = 0,307; T = 6,204; p < 0,001). Technostress juga memengaruhi prokrastinasi secara tidak langsung melalui cyberloafing (β = 0,129; T = 5,084; p < 0,001; VAF = 29,4%), yang menunjukkan mediasi parsial. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan akibat teknologi tidak hanya secara langsung meningkatkan prokrastinasi, tetapi juga mendorong cyberloafing yang selanjutnya memperbesar kecenderungan menunda pekerjaan.