Tyan Ferdiana Hikmah
Program Studi Gizi, Fakultas Psikologi Dan Kesehatan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil untuk Melakukan Screening Hiv/Aids Melalui Program Prevention Of Mother To Child Transmission (Pmtct) di Wilayah Kerja Puskesmas Kretek Bantul Yogyakarta Hikmah, Tyan Ferdiana; Novitasari, Dwi; Aniroh, Umi
Jurnal Keperawatan Maternitas Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan Maternitas
Publisher : Jurnal Keperawatan Maternitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

perempuan dalam masa kehamilan. Risiko penularan HIV/AIDS pada ibu yang tidak mendapatkan penanganan saat hamil diperkirakan terjadi sekitar 15-45%. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mencegah transmisi vertikal dengan melakukan Program PMTCT dimana salah satu komponennya adalah melakukan screening HIV/AIDS pada ibu hamil. Namun pelayanan PMTCT di wilayah Kretek masih terhitung 54 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional . Besar sampel adalah 50 orang. Analisa data secara univariat, bivariat dengan Chi-Square dan multivariate dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden 27 orang (54%) sudah melakukan screening HIV/AIDS. Faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS adalah pekerjaan nilai p = 0,003 (OR= 9,278;95%CI=2,098-41,041), keterjangkauan tempat nilai p = 0,042 (OR=5,061;95%CI=1,063-24,103) dan dukungan suami nilai p = 0,155 (OR =2,788;95%CI=0,678- 11,462). Faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS adalah pekerjaan dengan nilai sig. 0,003 dan Exp (B) sebesar 9,278. Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai risiko penularan HIV/AIDS dari ibu hamil ke bayinya dengan melibatkan suami sehingga ibu dan suami akan menyadari pentingnya screening serta dapat membuat alternatif untuk memudahkan ibu hamil dalam mengaksesnya yaitu dengan PMTCT mobile.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil untuk Melakukan Screening Hiv/Aids Melalui Program Prevention Of Mother To Child Transmission (Pmtct) di Wilayah Kerja Puskesmas Kretek Bantul Yogyakarta Tyan Ferdiana Hikmah; Dwi Novitasari; Umi Aniroh
Jurnal Keperawatan Maternitas Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan Maternitas
Publisher : Jurnal Keperawatan Maternitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.894 KB)

Abstract

perempuan dalam masa kehamilan. Risiko penularan HIV/AIDS pada ibu yang tidak mendapatkan penanganan saat hamil diperkirakan terjadi sekitar 15-45%. Pemerintah telah melakukan upaya untuk mencegah transmisi vertikal dengan melakukan Program PMTCT dimana salah satu komponennya adalah melakukan screening HIV/AIDS pada ibu hamil. Namun pelayanan PMTCT di wilayah Kretek masih terhitung 54 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian Cross Sectional . Besar sampel adalah 50 orang. Analisa data secara univariat, bivariat dengan Chi-Square dan multivariate dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden 27 orang (54%) sudah melakukan screening HIV/AIDS. Faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS adalah pekerjaan nilai p = 0,003 (OR= 9,278;95%CI=2,098-41,041), keterjangkauan tempat nilai p = 0,042 (OR=5,061;95%CI=1,063-24,103) dan dukungan suami nilai p = 0,155 (OR =2,788;95%CI=0,678- 11,462). Faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku ibu hamil untuk melakukan screening HIV/AIDS adalah pekerjaan dengan nilai sig. 0,003 dan Exp (B) sebesar 9,278. Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan pendidikan kesehatan mengenai risiko penularan HIV/AIDS dari ibu hamil ke bayinya dengan melibatkan suami sehingga ibu dan suami akan menyadari pentingnya screening serta dapat membuat alternatif untuk memudahkan ibu hamil dalam mengaksesnya yaitu dengan PMTCT mobile.
Protection of Human Right for Pregnant Women in Implementing HIV/AIDS Screening for Prevention of HIV/AIDS transmission from mother to Child in Bantul District Health Center Tyan Ferdiana Hikmah; Agnes Widanti; I. Edward Kurnia SL
SOEPRA Vol 5, No 1: Juni 2019
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.877 KB) | DOI: 10.24167/shk.v5i1.1507

Abstract

HIV / AIDS is a health problem in the world which is constantly increasing, especially in women during pregnancy. The government has made efforts to prevent the spread of HIV / AIDS from mother to child where one of its components is to screen for pregnant women. Implementation of HIV / AIDS screening at Puskesmas Bantul District still focuses on increasing coverage of visit in Puskesmas, not yet paying attention to how the protection of human rights for pregnant women.The research method was sociological juridical, with descriptive analytical specification. Primary data were obtained from interviews with 4 midwifes, 4 persons in charge of the program, 4 heads of community health centers and 4 heads of health center and 1 person in Health Office’s Bantul District and 8 pregnant women as well as observation at four health centers in Bantul district. Secondary data were legal materials, official documents, books and research journals. Data analysis using qualitative was inductive.Implementation of HIV / AIDS screening for pregnant women is regulated in Minister of Health Regulation Number 97, 2017 and Minister of Health Regulation Number 51, 2013 about prevention of mother to child transmission of HIV / AIDS related to the protection of human rights for pregnant women. The protection of human rights for pregnant women in the implementation of HIV / AIDS screening at the Bantul District Health Center has not been fulfilled in terms the rights of information, the rights of consent, and the rights of confidentiality. Supporting factors include the availability of health facilities, supporting health resources, supporting facilities and infrastructures while inhibiting factors are health services, limited number of counselors, social support (husbands, health workers, community leaders), affordability, pregnant women working, knowledge, social factors, and the implementation of legislation.
Legal Protection of Students' Reproductive Health Rights through Campus Health Service Governance Tyan Ferdiana Hikmah; Ratih Kartika Dewi; Merissa Pramudita
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.3511

Abstract

Reproductive health services play an essential role in supporting students’ well-being and safeguarding their reproductive health rights. As young adults, university students face various reproductive health challenges that require accessible, confidential, and non-discriminatory services. However, the governance and implementation of reproductive health services in higher education institutions remain limited due to inadequate institutional policies, restricted access, and concerns regarding confidentiality and social stigma. This study aimed to assess the governance of reproductive health services and examine the protection of students’ rights in accessing reproductive health care. A sequential explanatory mixed-methods design was employed. Quantitative data were collected from 150 students selected through proportional stratified random sampling using a structured questionnaire, while qualitative data were obtained through in-depth interviews, focus group discussions, and document reviews involving students, campus health personnel, and university administrators. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, whereas qualitative findings were examined through thematic analysis. The findings revealed that although most students recognized the importance of reproductive health services, service utilization remained relatively low. The main barriers included limited awareness of available services, concerns about confidentiality, perceived social stigma, and the absence of comprehensive institutional policies. Existing campus health services primarily focused on general health care and had not adequately integrated reproductive health programs into routine service delivery. The qualitative findings further emphasized the need for stronger governance, clearer service protocols, and greater institutional commitment to protecting students’ reproductive health rights. In conclusion, strengthening institutional policies, improving service accessibility, ensuring confidentiality, and integrating reproductive health programs into campus health governance are essential to enhance the protection of students’ reproductive health rights and increase the utilization of reproductive health services in higher education institutions.   Pelayanan kesehatan reproduksi merupakan komponen penting dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa sekaligus melindungi hak-hak kesehatan reproduksi mereka. Sebagai kelompok usia dewasa muda, mahasiswa menghadapi berbagai permasalahan kesehatan reproduksi yang memerlukan layanan yang mudah diakses, menjaga kerahasiaan, dan bebas dari diskriminasi. Namun, tata kelola pelayanan kesehatan reproduksi di perguruan tinggi masih belum optimal karena keterbatasan kebijakan institusi, akses layanan yang belum memadai, serta adanya kekhawatiran terhadap kerahasiaan dan stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tata kelola pelayanan kesehatan reproduksi serta perlindungan hak mahasiswa dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi. Penelitian menggunakan desain sequential explanatory mixed methods. Data kuantitatif dikumpulkan dari 150 mahasiswa yang dipilih melalui teknik proportional stratified random sampling menggunakan kuesioner terstruktur. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan telaah dokumen yang melibatkan mahasiswa, tenaga kesehatan kampus, serta pengelola perguruan tinggi. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar mahasiswa menyadari pentingnya pelayanan kesehatan reproduksi, tingkat pemanfaatan layanan masih rendah. Hambatan utama meliputi rendahnya pengetahuan mengenai ketersediaan layanan, kekhawatiran terhadap kerahasiaan, adanya stigma sosial, serta belum tersedianya kebijakan institusi yang komprehensif. Layanan kesehatan kampus masih berfokus pada pelayanan kesehatan umum dan belum mengintegrasikan program kesehatan reproduksi secara menyeluruh. Temuan kualitatif juga mengungkapkan perlunya penguatan tata kelola, penyusunan prosedur layanan yang lebih jelas, serta peningkatan komitmen institusi dalam melindungi hak kesehatan reproduksi mahasiswa. Dengan demikian, penguatan kebijakan institusi, peningkatan aksesibilitas layanan, jaminan kerahasiaan, serta integrasi program kesehatan reproduksi ke dalam tata kelola layanan kesehatan kampus menjadi langkah penting untuk meningkatkan perlindungan hak kesehatan reproduksi dan pemanfaatan layanan oleh mahasiswa.