Sopi Ali Mubarok
Institut Pendidikan Indonesia Garut

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HEGEMONI DAN KONTROL INFORMASI DALAM NARASI ANTI-HOAKS PROGRAM MBG: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Sopi Ali Mubarok; Agus Hamdani; Lina Siti Nurwahidah
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.25929

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi kekuasaan, ideologi, dan mekanisme kontrol informasi dalam narasi anti-hoaks pada pemberitaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus penelitian diarahkan pada teks berita ANTARA News berjudul BGN Gandeng Kemkomdigi Perangi Hoaks Program MBG yang dipublikasikan pada 28 Februari 2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang mencakup tiga dimensi analisis, yaitu dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosiokultural (Fairclough, 1992; Fairclough, 2001; Wodak & Meyer, 2016; Ulinnuha et al., 2013). Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis melalui identifikasi unsur linguistik, interpretasi produksi serta konsumsi teks, dan eksplanasi konteks sosial-politik yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi anti-hoaks dalam pemberitaan tersebut tidak semata berfungsi sebagai strategi melawan disinformasi, melainkan juga sebagai praktik diskursif yang mengonstruksi legitimasi negara dalam mengontrol ruang digital. Pada level teks, ditemukan penggunaan diksi militeristik, modalitas tinggi, nominalisasi, dan dominasi aktor negara sebagai subjek aktif (Machin & Mayr, 2012; Ledin & Machin, 2019). Pada level praktik diskursif, ANTARA sebagai media nasional berfungsi sebagai reproduktor wacana resmi pemerintah (Erwin & Susanto, 2019; Hapsari & Komariah, 2024; Pambudi et al., 2025). Pada level praktik sosiokultural, narasi anti-hoaks beroperasi sebagai instrumen hegemoni ideologis untuk mempertahankan stabilitas politik dan legitimasi kebijakan publik (van Dijk, 1998; van Dijk, 2008; Fuchs, 2020). Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam media tidak pernah netral, melainkan menjadi arena pertarungan kekuasaan, ideologi, dan kontrol sosial (Gee, 2014; KhosraviNik, 2017; Couldry & Mejias, 2019).