Yulisa Susanti
Universitas Esa Unggul Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Quarter Life Crisis pada Perempuan Dewasa Awal Ardella Naurah Sani; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.253

Abstract

Dewasa awal merupakan tahap dari remaja menuju kedewasaan. Pada tahap ini, individu mulai menghadapi perubahan-perubahan, seperti kemandirian secara ekonomi, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Adanya perubahan serta tuntutan, khususnya pada perempuan lebih rentan mengalami tekanan psikologis saat merasa tidak dapat memenuhi standar sosial yang ditetapkan, sehingga dapat memicu munculnya quarter life crisis. Salah satu faktor yang dapat berperan dalam menghadapi kondisi tersebut yaitu berasal dari dukungan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Partisipan berjumlah 385 perempuan berusia 20-25 tahun, yang berdomisili di DKI Jakarta, menggunakan teknik non-probabilty sampling dengan jenis purposive sampling. Alat ukur dukungan orang tua sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,926 dan alat ukur quarter life crisis sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,910. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman rank, dengan nilai koefisien korelasi -0,556 dan nilai signifikansi (p) = 0,000. Hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada Perempuan dewasa awal, artinya semakin tinggi dukungan orang tua, maka semakin rendah quarter life crisis, dan sebaliknya semakin rendah dukungan orang tua, maka semakin tinggi quarter life crisis.
Pengaruh Keterlibatan Ayah Terhadap Psychological Well-Being pada Remaja Pasca Perceraian Orang Tua Agita Rifdawati; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.264

Abstract

Perceraian orang tua dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja, terutama ketika perubahan struktur keluarga menyebabkan berkurangnya keterlibatan salah satu orang tua, khususnya ayah. Keterlibatan ayah tetap penting dalam mendukung perkembangan psikologis remaja meskipun ayah tidak lagi tinggal serumah setelah perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan ayah terhadap psychological well-being pada remaja pasca perceraian orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain model kausal dan analisis regresi linier sederhana. Sampel terdiri atas 110 remaja berusia 15-18 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Keterlibatan ayah diukur menggunakan skala yang mencakup engagement, accessibility, dan responsibility, sedangkan psychological well-being diukur menggunakan Psychological Well-Being Short Scale. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883 untuk skala keterlibatan ayah dan 0,848 untuk skala psychological well-being. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883 untuk skala keterlibatan ayah dan 0,848 untuk skala psychological well-being. Hasil regresi menunjukkan bahwa model signifikan (F = 12,194; p = 0,001). Keterlibatan ayah memiliki koefisien regresi positif dan signifikan (B = 0,292; β = 0,319; t = 3,492; p = 0,001). Nilai R² sebesar 0,101 menunjukkan bahwa keterlibatan ayah menjelaskan 10,1% variasi psychological well-being. Dengan demikian, semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin tinggi pula psychological well-being yang diprediksi pada remaja pasca perceraian.