Muhamad Faridh Al Farisy
Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perancangan Housing Antena Automatic Dependent Surveillance-Broadcast Model Mikrostrip Blade pada Pesawat Piper Warrior-III Andyo Reynaldy; Ego Widoro; Muhamad Faridh Al Farisy; Nurdin
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9179

Abstract

Pesawat latih Piper PA-28-161 Warrior III yang dioperasikan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug telah dilengkapi sistem Automatic Dependent Surveillance–Broadcast (ADS-B) hasil modifikasi non-pabrikan yang menurut laporan teknisi dan penerbang kerap mengalami malfunction, sementara rancangan housing antena yang spesifik bagi karakteristik fuselage pesawat tersebut belum tersedia. Penelitian ini dilakukan karena penambahan komponen eksternal pada permukaan pesawat menuntut perlindungan mekanik tanpa mendegradasi pancaran sinyal pada frekuensi kerja 1090 MHz, sekaligus berpotensi menambah gaya hambat aerodinamis. Tujuan penelitian adalah menentukan lokasi pemasangan yang paling sesuai, merancang geometri housing tipe blade, dan menguji kelayakan aerodinamis rancangan tersebut. Penelitian menggunakan metode Research and Development dengan model pengembangan ADDIE. Penentuan lokasi dilakukan melalui triangulasi kualitatif atas kajian manual instalasi Avidyne AXP340, observasi struktur belly fuselage, dan wawancara tiga ahli avionik, sedangkan kelayakan aerodinamis diuji melalui simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) ANSYS Fluent dengan model turbulensi SST k-ω. Metode tersebut dipilih karena memungkinkan evaluasi kuantitatif medan aliran tanpa pengujian fisik yang mahal dan memakan waktu. Hasil triangulasi menetapkan lokasi pemasangan pada belly fuselage sedekat mungkin dengan centerline. Simulasi pada kecepatan 68,333 m/s menunjukkan varian swept angle 45° menghasilkan drag force 0,9189 N dengan drag coefficient 1,5002 atau 1,61% lebih rendah daripada varian 30° (0,9339 N; 1,5247), disertai wall shear stress dan skin friction coefficient 7,37% lebih rendah serta tekanan maksimum permukaan 1.307,83 Pa berbanding 1.584,31 Pa. Varian 45° karenanya ditetapkan sebagai rancangan akhir yang direkomendasikan. Penelitian lanjutan disarankan mencakup analisis struktural, pengujian karakteristik elektromagnetik, dan validasi terowongan angin.
Perancangan Housing Antena Satellite Communication Model Dome Pesawat Piper Seneca-V di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug Mohamad Abrori Ibrahim; Ego Widoro; Muhamad Faridh Al Farisy
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9199

Abstract

Penerapan Satellite Communication (SATCOM) pada pesawat berbadan kecil masih terbatas, termasuk pada armada Politeknik Penerbangan Indonesia Curug. Kondisi tersebut mendorong perancangan housing pelindung untuk antena microstrip penerima SATCOM yang tetap memenuhi kebutuhan perlindungan, aerodinamika, struktur, dan transparansi elektromagnetik. Penelitian ini bertujuan menentukan lokasi pemasangan yang optimal, merancang housing antena model dome, serta menguji kelayakan desain dari aspek aerodinamika. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D), dengan penentuan lokasi melalui triangulasi studi literatur, observasi, dan wawancara ahli, sedangkan proses desain menggunakan VDI 2221 dan evaluasi aerodinamika menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD) pada ANSYS Fluent. Hasil menunjukkan bahwa upper fuselage merupakan lokasi yang paling sesuai. Dua desain housing dikembangkan, yaitu Tipe 1 Flat Top dan Tipe 2 Cambered, dengan material komposit dan ketebalan 5 mm. Tipe 1 menghasilkan drag coefficient 5,5618 dan drag force 3,4066 N, sedangkan Tipe 2 menghasilkan 6,9336 dan 4,2958 N. Dengan demikian, kedua desain layak secara aerodinamika pada ruang lingkup simulasi, tetapi Tipe 1 lebih direkomendasikan karena menghasilkan hambatan lebih rendah dan wake yang lebih stabil. Penelitian lanjutan disarankan mencakup fabrikasi, pengujian struktur, ground test, dan flight test.