Pengembangan human capital pada jenjang pendidikan dasar tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga memerlukan penguatan soft skills, khususnya kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan literasi. Hasil observasi awal di SDN 8 Sidomulyo, Banyuwangi, menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami keterbatasan dalam menyampaikan pendapat, berbicara di depan kelas, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan literasi. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Speak and Literacy Class serta mengidentifikasi kontribusinya terhadap pengembangan kemampuan komunikasi dan literasi siswa. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui desain studi kasus yang melibatkan 64 siswa kelas IV dan V. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa program memberikan ruang bagi siswa untuk berpartisipasi aktif melalui kegiatan membaca, menyimak, menjawab pertanyaan, mengolah informasi dengan kata-kata sendiri, dan storytelling. Dari 18 siswa yang diberikan kesempatan untuk tampil, sebanyak 12 siswa (66,7%) bersedia menyampaikan cerita atau informasi di depan kelas. Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi kegiatan literasi dan praktik berbicara dapat mendorong partisipasi siswa sekaligus memberikan ruang untuk mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi. Program Speak and Literacy Class memiliki relevansi dalam mendukung pengembangan human capital sejak dini melalui penguatan keterampilan literasi dan komunikasi.