Doddy Iskandar
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Komunikasi Pemasaran dalam Konten Education Marketing di Platform Media Sosial Muh Iqbal Faturohman Paris; Doddy Iskandar
Bandung Conference Series: Communication Management 353 - 360
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24020

Abstract

Advances in digital technology have encouraged early childhood education institutions to utilize social media as a marketing communication tool that is not only promotional but also educational. Starland Preschool and Kindergarten, through its Instagram account @starlandvaganza, uses educational marketing content to convey information about its programs, learning activities, parenting tips, and educational values to parents as its primary audience. This study aims to identify the marketing communication strategies within the educational marketing content on the @starlandvaganza Instagram account. The study employs a qualitative method using a case study approach. Data was collected through in-depth interviews with the Starland Preschool and Kindergarten Marketing Team and parents of students, observations of Instagram content activities, as well as documentation in the form of content plans, posts, and data insights. The results indicate that marketing communication strategies are implemented through a combination of educational, promotional, entertaining, testimonial, and persuasive content. The content creation process is systematically organized via a monthly content plan and four content pillars: educate, entertain, inspire, and convince/enlighten. Challenges include shifting social media trends, low engagement with educational content, limited resources, and difficulties in measuring content impact. Instagram was chosen as the primary platform because it is visual, credible, interactive, and aligned with the target audience. These findings underscore Instagram’s role in fostering information sharing, interaction, and parental trust in the educational institution.   Perkembangan teknologi digital mendorong lembaga pendidikan anak usia dini memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi pemasaran yang tidak hanya bersifat promosi, tetapi juga edukatif. Starland Preschool and Kindergarten melalui akun Instagram @starlandvaganza menerapkan konten education marketing untuk menyampaikan informasi program, aktivitas pembelajaran, tips parenting, serta nilai edukatif kepada orang tua sebagai audiens utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran dalam konten education marketing di akun Instagram @starlandvaganza. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Tim Marketing Starland Preschool and Kindergarten dan orang tua murid, observasi terhadap aktivitas konten Instagram, serta dokumentasi berupa content plan, unggahan, dan data insight. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran dilakukan melalui perpaduan konten edukatif, promosi, hiburan, testimoni, dan pesan persuasif. Proses konten disusun secara sistematis melalui content plan bulanan dan empat pilar konten, yaitu educate, entertain, inspire, dan convince/enlighten. Hambatan yang dihadapi meliputi perubahan tren media sosial, rendahnya engagement konten edukatif, keterbatasan sumber daya, dan kesulitan mengukur dampak konten. Instagram dipilih sebagai media utama karena visual, kredibel, interaktif, dan sesuai target audiens. Temuan ini menegaskan peran Instagram dalam membangun informasi, interaksi, dan kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan tersebut.
Resepsi Gen Z dalam Podcast Raditya Dika Salma Su'daa Saajidah; Doddy Iskandar
Bandung Conference Series: Communication Management 1089 - 1096
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25979

Abstract

Raditya Dika’s podcast has become a popular digital medium among teenagers and adults alike, as it offers lighthearted, engaging, and educational discussions on mental health, parenting, and his experiences as a doctor. The episode featuring Dr. Tirta and Dr. Gia successfully delivered entertaining and enjoyable yet informative content; the distinct personalities and communication styles of the two guests served as a unique draw for the audience, leading to diverse interpretations of the conversation’s content. This study aims to analyze audience reception of the information presented regarding mental health and child-rearing in Raditya Dika’s podcast featuring Dr. Tirta and Dr. Gia. This study employs a qualitative method with a reception analysis approach. Data collection methods included in-depth interviews, observation of podcast episodes on YouTube, and a literature review. This study also utilized Stuart Hall’s Audience Reception Theory, which explains that audiences play an active role in interpreting media messages. Field research findings revealed that Gen Z informants recognized a stark contrast in the personalities of the two guests, dubbed “Tantrum vs. Tentram” by the audience: Dr. Tirta exhibits a sarcastic personality, while Dr. Gia has a gentle and soft-spoken demeanor. These differences actually complement each other and make health education and parenting advice more entertaining and less rigid. Overall, this podcast is considered a highly effective and communicative digital educational tool for the younger generation.   Podcast Raditya Dika menjadi salah satu media digital yang banyak diminati oleh kalangan remaja hingga dewasa karena menyajikan pembahasan yang ringan, komunikatif dan edukatif mengenai kesehatan mental, pola asuh anak, serta pengalaman sebagai seorang dokter. Episode Dr. Tirta dan Dr Gia berhasil menghadirkan konten yang menghibur dan menyenangkan namun tetap informatif, perbedaan karaker dan gaya komunikasi kedua narasumber tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi audiens sehingga memunculkan beragam interpretasi terhadap isi percakapan yang disampaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi audiens terhadap penyampaian informasi mengenai kesehatan mental dan pola asuh anak dalam podcast Raditya Dika bersama Dr. Tirta dan Dr. Gia, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara mendalam, observasi tayangan podcast pada platform Youtube, serta studi literatur. Penelitian ini juga menggunakan Audience Reception Theory yang dikemukakan oleh Stuart Hall, yang menjelaskan bahwa audiens berperan aktif dalam memaknai pesan media. Hasil penelitian yang ditemukan di lapangan bahwa informan Gen Z menyadari adanya perbedaan karakter yang konras antara kedua narasumber yang dijuluki “Tantrum Vs Tentram” oleh audiens, Dr. Tirta memiliki karakter yang sarkas sedangkan Dr. Gia memiliki karakter yang lemah lembut. Adanya perbedaan ini justru saling melengkapi serta membuat edukasi kesehatan dan pola asuh anak menjadi lebih menghibur dan tidak kaku. Secara keseluruhan podcast ini dinilai sebagai sarana edukasi digital yang sangat efektif dan komunikatif bagi generasi muda.
Representasi Identitas Budaya Sunda dalam Konten Tiktok THE PANTURAS: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Fahrul Burhanuddin Tsani; Doddy Iskandar
Bandung Conference Series: Communication Management 915 - 922
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.26060

Abstract

The development of social media has created new spaces for cultural representation in digital media. TikTok has become one of the platforms that enables users to disseminate cultural values through audiovisual content. This study aims to analyze the representation of Sundanese cultural identity in The Panturas' TikTok content using Roland Barthes' semiotic analysis. The research employed a qualitative descriptive approach with Roland Barthes' semiotic method focusing on denotation, connotation, and myth. The object of the study consisted of selected TikTok content uploaded by The Panturas that contained elements of Sundanese culture. Data were collected through documentation and observation of visual, audio, and textual elements contained in the content. The findings indicate that Sundanese cultural identity is represented through the use of Sundanese language, traditional Sundanese songs, local humor, and traditional musical instruments. At the denotative level, these elements appear as cultural symbols displayed in the content. At the connotative level, they reflect values of politeness, cultural pride, and local identity. At the myth level, the content constructs the understanding that Sundanese culture is not merely a traditional heritage but remains relevant and adaptable in the digital era. The study concludes that The Panturas utilizes TikTok as a medium for representing and preserving Sundanese cultural identity among younger generations.   Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi representasi budaya dalam media digital. TikTok menjadi salah satu platform yang memungkinkan penyebaran nilai-nilai budaya melalui konten audiovisual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas budaya Sunda dalam konten TikTok The Panturas menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode semiotika Roland Barthes yang berfokus pada makna denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian berupa konten TikTok The Panturas yang memuat unsur-unsur budaya Sunda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan observasi terhadap unsur visual, audio, dan teks dalam konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya Sunda direpresentasikan melalui penggunaan bahasa Sunda, lagu daerah Sunda, humor berbasis budaya lokal, serta alat musik tradisional Sunda. Pada tingkat denotasi, unsur-unsur tersebut tampil sebagai simbol budaya yang terlihat secara langsung. Pada tingkat konotasi, unsur tersebut memaknai nilai kesopanan, kebanggaan budaya, dan identitas lokal. Sementara pada tingkat mitos, konten membangun pemahaman bahwa budaya Sunda bukan sekadar warisan tradisional, melainkan identitas yang tetap relevan dan mampu beradaptasi di era digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa The Panturas memanfaatkan TikTok sebagai media representasi sekaligus pelestarian identitas budaya Sunda kepada generasi muda.