Lu’lu’il Fajriah
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Rekonstruksi Pola Komunikasi Kakak dan Adik Pasca Kehilangan Ibu dalam Konteks Keluarga: Studi Fenomenologi Lu’lu’il Fajriah; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 1081 - 1088
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25973

Abstract

The death of a mother constitutes a critical life event that affects not only individual psychological well-being but also the communication dynamics within the family. Previous studies have predominantly examined parental loss from the perspectives of grief and psychological adjustment, whereas limited attention has been given to how sibling communication is reconstructed following maternal loss. This study aims to explore the subjective experiences of siblings in interpreting the loss of their mother, examine the process of reconstructing communication patterns, and explain the formation of new relational meanings within sibling relationships after maternal death. This research employed a constructivist paradigm using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Four participants, consisting of two sibling pairs, were selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The findings indicate that maternal loss initiates a process of communication reconstruction through three interrelated dimensions: role shifting communication, safe communication space, and relational identity reconstruction. Older siblings gradually reconstructed communicative roles previously associated with the mother by providing emotional support, guidance, and maintaining family connectedness. Simultaneously, sibling interactions evolved into more open, empathetic, and supportive relationships, leading to the emergence of new relational meanings that positioned siblings as emotional companions and guardians of family continuity. These findings demonstrate that maternal loss not only generates grief but also reconstructs communication practices and relational identities within the family.   Kematian ibu merupakan peristiwa kehilangan yang berdampak tidak hanya pada kondisi psikologis individu, tetapi juga pada dinamika komunikasi dalam keluarga. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada pengalaman berduka dan penyesuaian psikologis individu, sementara kajian mengenai bagaimana pola komunikasi saudara kandung direkonstruksi pasca kehilangan ibu masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif kakak dan adik dalam memaknai kehilangan ibu, mengkaji proses rekonstruksi pola komunikasi yang terjadi, serta menjelaskan pembentukan makna relasional baru dalam hubungan saudara kandung setelah kematian ibu. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif dan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Informan penelitian terdiri atas empat orang yang berasal dari dua pasangan kakak dan adik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan ibu menjadi titik awal rekonstruksi komunikasi melalui tiga dimensi utama, yaitu role shifting communication, safe communication space, dan relational identity reconstruction. Kakak secara bertahap merekonstruksi fungsi komunikasi yang sebelumnya dijalankan oleh ibu sebagai pemberi arahan, pelindung, dan penghubung keluarga. Hubungan komunikasi yang sebelumnya lebih bersifat fungsional berkembang menjadi lebih terbuka, suportif, dan berorientasi pada dukungan emosional sehingga melahirkan makna baru mengenai hubungan saudara kandung sebagai sumber kekuatan emosional, mitra dalam menghadapi kehilangan, serta penjaga keberlangsungan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa kehilangan ibu tidak hanya memunculkan pengalaman berduka, tetapi juga mendorong rekonstruksi praktik komunikasi dan identitas relasional dalam keluarga.