Indri Rachmawati
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Tipologi Komunikasi Interpersonal Mediator Perceraian Pengadilan Agama Kota Bandung Tarissa Puri Febrianti; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 297 - 306
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.23917

Abstract

The high divorce rate in Bandung City which reached 4,934 cases in 2024 makes the mediation proces a crucial tool in curbing the erosion of family resilience. The success of such mediation depends heavily on the mediator’s interpersonal communication skills in resolving obstacles and managing emotionally charged disputes. This study aims to analyze the interpersonal communication practices of mediators at the Class 1A Religious Court in Bandung City using Joseph A. DeVito’s theoretical framework integrated with Islamic spiritual values. The object of this study is mediators’ interpersonal communication, with three key mediator informants as the research subjects. The approach used is quasi-qualitative with a combined deductive method through a post-positivist paradigm. Data collection was conducted using structured techniques, including in-depth interviews, non-participant observation, and documentation of mediation reports from 2025. Data analysis employed thematic analysis and categorization techniques. The research findings indicate that the five communication qualities are applied strategically and are influenced by three mediator typologies: M1 (Humorous-Persuasive), M2 (Firm-Patient), and M3 (Spiritual-Rational). Openness is manifested through facilitated disclosure; cognitive empathy through reframing; a supportive attitude in the form of the regulatory function of rules; interaction management as a balancer of the flow of dialogue (Qaulan Layyinan); and equality through power balancing (Al-Adl). This study produced the “Mediator Interpersonal Communication Transformation Model” as an instrument for restoring trust to facilitate peaceful resolutions (Ishlah) and amicable separations (Cerai Ma’ruf).   Tingginya angka perceraian di Kota Bandung yang mencapai 4.934 kasus pada tahun 2024 menempatkan proses mediasi sebagai instrumen krusial dalam menekan degradasi ketahanan keluarga. Keberhasilan mediasi tersebut sangat bergantung pada kualitas kompetensi komunikasi interpersonal mediator dalam mengurai hambatan dan mengelola sengketa yang sarat muatan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi interpersonal mediator di Pengadilan Agama Kelas 1A Kota Bandung dengan menggunakan kerangka teori Joseph A. DeVito yang diintegrasikan dengan nilai-nilai spiritual Islam. Objek penelitian ini adalah komunikasi interpersonal mediator dengan subjek penelitian tiga informan mediator kunci. Pendekatan yang digunakan adalah kuasi-kualitatif dengan metode campuran deduktif (Combined Deductive) melalui paradigma post-positivisme. Teknik pengumpulan data dilakukan secara terstruktur melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi laporan mediasi tahun 2025. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik dan kategorisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima kualitas komunikasi diterapkan secara strategis yang dipengaruhi oleh tiga tipologi mediator: M1 (Humoris-Persuasif), M2 (Tegas-Sabar), dan M3 (Spiritual-Rasional). Keterbukaan diwujudkan lewat facilitated disclosure, empati secara kognitif melalui reframing, sikap mendukung berupa fungsi regulatif aturan, manajemen interaksi sebagai penyeimbang arus dialog (Qaulan Layyinan), dan kesetaraan melalui power balancing (Al-Adl). Penelitian ini menghasilkan "Model Transformasi Komunikasi Interpersonal Mediator" sebagai instrumen restorasi kepercayaan guna memfasilitasi keputusan damai (Ishlah) maupun perpisahan yang baik (Cerai Ma’ruf).
Antara FoMO dan Personal branding Naufal Fairuz Rizqulloh; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 529 - 536
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24450

Abstract

This study aims to describe university students' experiences, interpretations, and management of Fear of Missing Out (FoMO) in the process of building digital identity and personal branding on TikTok. The research employed a qualitative method using Alfred Schutz's social phenomenology approach. Data were collected through in-depth interviews and observations of the TikTok accounts of three students selected through purposive sampling. The findings indicate that FoMO is not perceived as a uniform psychological pressure but as a subjective experience shaped by how individuals interpret their social media activities. Students actively select trends, regulate their participation, and construct digital identities based on their personal values and goals. The management of FoMO is reflected through emotional regulation, self-control, and reflective decision-making before and after content is published to maintain a balance between digital presence and personal well-being. This study concludes that FoMO extends beyond social anxiety and functions as an adaptive strategy for developing digital identity and personal branding within today's dynamic digital culture.   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman, pemaknaan, dan pengelolaan Fear of Missing Out (FoMO) pada mahasiswa pengguna TikTok dalam proses membangun identitas dan personal branding di ruang digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sosial Alfred Schutz. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi akun TikTok terhadap tiga mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO tidak dimaknai sebagai tekanan psikologis yang bersifat seragam, melainkan sebagai pengalaman subjektif yang dipengaruhi oleh cara individu memaknai aktivitasnya di media sosial. Mahasiswa secara aktif melakukan seleksi terhadap tren, mengelola keterlibatan, serta membangun identitas digital sesuai nilai dan tujuan yang dimiliki. Pengelolaan FoMO dilakukan melalui regulasi emosi, kontrol diri, dan proses refleksi sebelum maupun sesudah konten dipublikasikan sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan antara eksistensi digital dan kenyamanan pribadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa FoMO tidak hanya menjadi bentuk kecemasan sosial, tetapi juga berkembang menjadi strategi adaptif dalam membangun identitas dan personal branding di tengah dinamika budaya digital.
Konstruktivis Pengalaman Hidup Orang Tua dalam Membangun Komunikasi dengan Anak Remaja Bella Puspita Sari Dewi; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 623 - 630
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24741

Abstract

Adolescent mental health is an important issue that requires attention within the family environment. This study aims to explore parents’ experiences in establishing communication with early adolescents as an effort to support their mental well-being. The research employed a qualitative method with a phenomenological approach. The participants consisted of five parents as the main informants and adolescents as supporting informants. Data were collected through in-depth interviews and validated using source triangulation. The findings indicate that parents perceive family communication as a form of care, guidance, protection, and responsibility in supporting their children's development. Communication is reflected through openness, emotional support, close relationships, and adjustments in communication styles based on adolescents’ needs. The study also found that parents draw upon their life experiences as a source of reflection to develop more effective communication practices that support the mental health of early adolescents.   Kesehatan mental remaja merupakan slah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman orang tua dalam membangun komunikasi dengan remaja awal sebagai upaya mendukung kesehatan mental mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan metode kualitatif. Informan penelitian terdiri dari lima orang  tua dan sebagai informan utama dan remaja sebagai informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan triangulasi sumber. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi keluarga dipahami orang tua sebagai bentuk kepedulian, pendampingan, perlindungan, serta tanggung jawab dalam proses perkembangan anak. Komunikasi diwujudkan melalui keterbukaan, dukungan emosional, kedekatan hubungan, dan penyesuaian cara berkomunikasi sesuai kebutuhan remaja. Penelitian ini juga menemukan bahwa orang tua memanfaatkan pengalaman hidup sebagai refleksi untuk membangun komunikasi yang lebih baik dalam mendukung kesehatan mental remaja awal.
Refleksi Kritis sebagai Faktor Literasi Digital Dominan pada Parenting Gadget Anak Anisa Julpa Sakinah; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 803 - 810
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25207

Abstract

The rapid development of digital technology has transformed parenting practices, particularly in relation to children's gadget usage. Parents are required to possess adequate digital literacy in order to guide, supervise, and educate children in using digital devices responsibly. This study aims to determine the influence of parents’ digital literacy knowledge on parenting styles in children's gadget usage and identify the most dominant digital literacy dimension affecting parenting practices. This study employed a quantitative explanatory method using a multiple regression analysis approach. The respondents consisted of 121 parents of students at MI Daarul Hikmah Al-Qorni selected through proportional cluster sampling. The independent variables included technological awareness, technical skills, socio-cultural understanding, and critical reflection, while the dependent variable was parenting style in children's gadget usage. The findings indicate that parents’ digital literacy knowledge significantly influences parenting style. Simultaneously, all dimensions of digital literacy contribute significantly to parenting practices. Among the dimensions examined, critical reflection emerged as the most dominant factor influencing parenting style. Parents with higher critical reflection abilities tend to implement more adaptive, communicative, and participatory parenting approaches in supervising children's gadget use.   Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam pola pengasuhan orang tua, khususnya dalam penggunaan gadget pada anak. Orang tua dituntut memiliki pengetahuan literasi digital yang memadai agar mampu membimbing, mengawasi, dan mengarahkan anak menggunakan teknologi secara bijak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan literasi digital orang tua terhadap gaya parenting dalam penggunaan gadget pada anak serta mengidentifikasi dimensi literasi digital yang paling dominan memengaruhi gaya parenting. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori dan analisis regresi linear berganda. Responden penelitian berjumlah 121 orang tua siswa MI Daarul Hikmah Al-Qorni yang dipilih menggunakan teknik proportional cluster sampling. Variabel independen terdiri atas kesadaran teknologi, keterampilan teknis, pemahaman sosial budaya, dan refleksi kritis, sedangkan variabel dependen adalah gaya parenting dalam penggunaan gadget pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan literasi digital orang tua berpengaruh signifikan terhadap gaya parenting. Secara simultan seluruh dimensi literasi digital memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gaya parenting. Di antara seluruh dimensi yang diteliti, refleksi kritis merupakan dimensi yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap gaya parenting. Orang tua yang memiliki kemampuan refleksi kritis yang tinggi cenderung menerapkan pola pengasuhan yang lebih komunikatif, adaptif, dan partisipatif dalam mendampingi penggunaan gadget pada anak.
Back Stage Tidak Lagi Bebas: Impression Management pada Penggunaan Second Account Shafa Alivia Azahra; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 871 - 878
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25393

Abstract

The use of Instagram second accounts demonstrates that university students utilize social media not only for sharing information but also for managing self-presentation according to different audience characteristics. This study aims to examine students' self-disclosure practices and impression management through the use of second accounts as a response to differences in self-image on Instagram. A qualitative method with Erving Goffman's Dramaturgical perspective was employed. Data were collected through in-depth interviews and digital observations involving eight university students who actively use Instagram second accounts. The data were analyzed using Miles and Huberman's interactive analysis model. The findings reveal that second accounts provide a space for more open self-disclosure through audience selection, privacy settings, and careful filtering of shared information. However, greater openness does not eliminate impression management. Instead, participants continue to regulate the impressions they convey by adapting their self-presentation to selected audiences. These findings suggest that second accounts should not be understood as completely unrestricted back stages, but rather as spaces of impression management that differ from primary accounts. This study extends the application of Goffman's dramaturgical perspective in digital communication by demonstrating that the distinction between front stage and back stage becomes increasingly fluid within social media interactions.   Fenomena penggunaan second account di Instagram menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya memanfaatkan media sosial sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga sebagai sarana mengelola presentasi diri sesuai dengan karakteristik audiens. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik self-disclosure serta impression management mahasiswa dalam penggunaan second account sebagai respons terhadap perbedaan citra diri di Instagram. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan perspektif Dramaturgi Erving Goffman. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi aktivitas digital terhadap delapan mahasiswa pengguna second account Instagram, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa second account menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melakukan self-disclosure yang lebih terbuka melalui pemilihan audiens, pengaturan privasi, dan penyaringan informasi yang dibagikan. Namun, keterbukaan tersebut tidak menghilangkan praktik impression management. Mahasiswa tetap mengelola kesan dengan menyesuaikan bentuk presentasi diri terhadap audiens yang telah dipilih. Temuan ini menunjukkan bahwa second account tidak dapat dipahami sebagai back stage yang sepenuhnya bebas, melainkan sebagai ruang pengelolaan kesan dengan karakteristik yang berbeda dari first account. Penelitian ini memperluas pemahaman mengenai penerapan konsep dramaturgi dalam komunikasi digital dengan menunjukkan bahwa batas antara front stage dan back stage menjadi semakin cair pada penggunaan media sosial.
Rekonstruksi Pola Komunikasi Kakak dan Adik Pasca Kehilangan Ibu dalam Konteks Keluarga: Studi Fenomenologi Lu’lu’il Fajriah; Indri Rachmawati
Bandung Conference Series: Communication Management 1081 - 1088
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25973

Abstract

The death of a mother constitutes a critical life event that affects not only individual psychological well-being but also the communication dynamics within the family. Previous studies have predominantly examined parental loss from the perspectives of grief and psychological adjustment, whereas limited attention has been given to how sibling communication is reconstructed following maternal loss. This study aims to explore the subjective experiences of siblings in interpreting the loss of their mother, examine the process of reconstructing communication patterns, and explain the formation of new relational meanings within sibling relationships after maternal death. This research employed a constructivist paradigm using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Four participants, consisting of two sibling pairs, were selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. The findings indicate that maternal loss initiates a process of communication reconstruction through three interrelated dimensions: role shifting communication, safe communication space, and relational identity reconstruction. Older siblings gradually reconstructed communicative roles previously associated with the mother by providing emotional support, guidance, and maintaining family connectedness. Simultaneously, sibling interactions evolved into more open, empathetic, and supportive relationships, leading to the emergence of new relational meanings that positioned siblings as emotional companions and guardians of family continuity. These findings demonstrate that maternal loss not only generates grief but also reconstructs communication practices and relational identities within the family.   Kematian ibu merupakan peristiwa kehilangan yang berdampak tidak hanya pada kondisi psikologis individu, tetapi juga pada dinamika komunikasi dalam keluarga. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada pengalaman berduka dan penyesuaian psikologis individu, sementara kajian mengenai bagaimana pola komunikasi saudara kandung direkonstruksi pasca kehilangan ibu masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif kakak dan adik dalam memaknai kehilangan ibu, mengkaji proses rekonstruksi pola komunikasi yang terjadi, serta menjelaskan pembentukan makna relasional baru dalam hubungan saudara kandung setelah kematian ibu. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif dan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Informan penelitian terdiri atas empat orang yang berasal dari dua pasangan kakak dan adik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan ibu menjadi titik awal rekonstruksi komunikasi melalui tiga dimensi utama, yaitu role shifting communication, safe communication space, dan relational identity reconstruction. Kakak secara bertahap merekonstruksi fungsi komunikasi yang sebelumnya dijalankan oleh ibu sebagai pemberi arahan, pelindung, dan penghubung keluarga. Hubungan komunikasi yang sebelumnya lebih bersifat fungsional berkembang menjadi lebih terbuka, suportif, dan berorientasi pada dukungan emosional sehingga melahirkan makna baru mengenai hubungan saudara kandung sebagai sumber kekuatan emosional, mitra dalam menghadapi kehilangan, serta penjaga keberlangsungan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa kehilangan ibu tidak hanya memunculkan pengalaman berduka, tetapi juga mendorong rekonstruksi praktik komunikasi dan identitas relasional dalam keluarga.