Dwi Agustin Nuriani Sirodj
Prodi Statistika, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendugaan Sebaran Nilai Dissolved Oxygen (DO) dengan Metode Inverse Distance Weighting (IDW) pada Sungai di DKI Jakarta Tahun 2023 Shinta Dewi Widyaningrum; Dwi Agustin Nuriani Sirodj
Bandung Conference Series: Statistics 225-234
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v6i2.25347

Abstract

Abstract. River water quality is a crucial indicator for maintaining the balance of aquatic ecosystems, particularly in densely populated areas such as DKI Jakarta. One of the key parameters used to assess water quality is Dissolved Oxygen (DO), which reflects the ability of a water body to support aquatic organisms. This study aimed to estimate the spatial distribution of DO values at unmeasured river locations in DKI Jakarta using the Inverse Distance Weighting (IDW) interpolation method. The dataset consisted of 120 measured DO observation points and 12 unmeasured locations where DO values were estimated. The optimal power parameter was determined using Leave-One-Out Cross-Validation (LOOCV) by testing power values ranging from 0.5 to 10 with an interval of 0.5. The results indicated that the optimal power parameter was p = 2, yielding a Root Mean Square Error (RMSE) of 2.993590 mg/L. Using this optimal parameter, the interpolated DO values at the 12 unmeasured locations ranged from 8.855522 to 13.803675 mg/L. The resulting interpolation map showed that the spatial distribution of DO values in the rivers of DKI Jakarta generally followed the pattern of neighboring observation points, consistent with the underlying principle of the IDW interpolation method. Abstrak. Kualitas air sungai merupakan salah satu indikator penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan, terutama di wilayah padat penduduk seperti DKI Jakarta. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai kualitas air adalah Dissolved Oxygen (DO), yang menunjukkan kemampuan perairan dalam mendukung kehidupan organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk menduga sebaran nilai DO pada titik-titik sungai di DKI Jakarta yang belum dilakukan pengukuran menggunakan metode Inverse Distance Weighting (IDW). Data yang digunakan terdiri dari 120 titik data DO terukur dan 12 titik yang akan diduga nilainya, tersebar pada jaringan Sungai Ciliwung, Angke Pesanggrahan, dan Cakung. Penentuan parameter power optimum dilakukan dengan metode Leave One Out Cross Validation (LOOCV) menggunakan nilai power dari 0,5 sampai 10 dengan interval 0,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai power optimum adalah dengan RMSE terkecil sebesar 2,993590 mg/L. Berdasarkan parameter tersebut, diperoleh hasil interpolasi nilai DO pada 12 titik tidak terukur dengan kisaran mg/L. Hasil validasi menunjukkan metode IDW mampu mengikuti pola sebaran DO secara umum, meskipun terdapat efek pemulusan (smoothing effect) yang menyebabkan overestimasi pada wilayah berkadar DO rendah dan underestimasi pada wilayah berkadar DO tinggi. Secara keseluruhan, ketiga jaringan sungai tergolong ke dalam kelas I menurut PP No. 22 Tahun 2021, yang menandakan kualitas air yang relatif baik ditinjau dari parameter DO.
Analisis Deskriptif Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Per Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2020-2024 Khalisha Azzahra; Nusar Hajarisman; Dwi Agustin Nuriani Sirodj
Bandung Conference Series: Statistics 311-318
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v6i2.26103

Abstract

Abstract. Kualitas konsumsi pangan dapat dinilai melalui Indeks Pola Pangan Harapan (PPH), yang mencerminkan keragaman dan keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. Analisis deskriptif terhadap skor PPH, disertai visualisasi spasial, penting dilakukan untuk memahami kondisi ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat serta mengidentifikasi perbedaan kualitas konsumsi pangan antarwilayah yang dapat menjadi dasar kebijakan pangan yang lebih terarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan skor PPH di Provinsi Jawa Barat selama periode 2020–2024 serta memvisualisasikan secara spasial perbedaan skor PPH antar kabupaten/kota pada tahun 2024, menggunakan data sekunder dari Open Data Jabar yang dianalisis dengan metode statistik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata skor PPH di Jawa Barat meningkat secara konsisten dari 83,794 poin pada tahun 2020 menjadi 91,283 poin pada tahun 2024, disertai penurunan simpangan baku dan rentang yang mengindikasikan semakin meratanya kualitas konsumsi pangan antarwilayah. Meskipun demikian, hasil visualisasi peta pada tahun 2024 memperlihatkan bahwa sebaran skor PPH antar kabupaten/kota masih belum sepenuhnya merata. Kabupaten Indramayu, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar memiliki skor PPH tertinggi, sementara Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kabupaten Tasikmalaya memiliki skor PPH terendah. Perbedaan tersebut mencerminkan karakteristik yang beragam di setiap wilayah, baik dari segi geografis, tingkat urbanisasi, ketersediaan pangan lokal, daya beli masyarakat, maupun kebiasaan konsumsi. Abstrak. The quality of food consumption can be assessed using the Desired Diet Index (PPH), which reflects the diversity and balance of the population’s food consumption. A descriptive analysis of PPH scores, accompanied by spatial visualization, is essential for understanding food security conditions in West Java Province and identifying regional differences in the quality of food consumption, which can serve as the basis for more targeted food policies. This study aims to describe PPH scores in West Java Province during the 2020–2024 period and to spatially visualize differences in PPH scores across regencies and cities in 2024, using secondary data from Open Data Jabar analyzed with descriptive statistical methods. The analysis results show that the average PPH score in West Java increased consistently from 83.794 points in 2020 to 91.283 points in 2024, accompanied by a decrease in standard deviation and range, indicating a more even distribution of food consumption quality across regions. Nevertheless, the results of the 2024 map visualization show that the distribution of PPH scores across regencies and cities is still not entirely even. Indramayu Regency, Ciamis Regency, and Banjar City have the highest PPH scores, while Bogor Regency, Bogor City, and Tasikmalaya Regency have the lowest PPH scores. These differences reflect the diverse characteristics of each region, in terms of geography, level of urbanization, availability of local food.