Menulis teks prosedur menuntut murid mengubah gagasan menjadi urutan langkah yang runtut serta menggunakan struktur dan unsur kebahasaan yang tepat. Tuntutan ini lebih menantang bagi murid dengan hambatan belajar yang memerlukan contoh konkret, pengulangan instruksi, dan bantuan bertahap. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mendeskripsikan penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis media visual dan peningkatan kemampuan literasi menulis teks prosedur pada empat murid kelas VII dengan hambatan belajar di SMP inklusif. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, tes menulis teks prosedur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Diferensiasi diterapkan dengan menyesuaikan kompleksitas materi, petunjuk visual, kerangka tulisan, dan scaffolding guru berdasarkan kesiapan murid. Rata-rata skor menulis meningkat dari 46,25 pada pra-tindakan menjadi 67,50 pada siklus I dan 82,50 pada siklus II. Ketuntasan meningkat dari 0% menjadi 25% dan 100%, sedangkan rata-rata N-gain dari pra-tindakan ke siklus II mencapai 0,68 atau kategori sedang. Aktivitas belajar meningkat dari 64,75 menjadi 87,00. Gambar berseri, kartu urutan, contoh teks sederhana, dan pengurangan bantuan secara bertahap membantu murid mengorganisasi gagasan, menggunakan struktur prosedur, serta berpartisipasi lebih percaya diri. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berbasis media visual berpotensi mendukung pembelajaran menulis di kelas inklusif, meskipun jumlah subjek yang kecil dan desain tindakan kelas membatasi generalisasi hasil.