Keamanan server merupakan aspek fundamental dalam penyelenggaraan layanan teknologi informasi, terutama pada sistem operasi Linux yang banyak digunakan sebagai server karena sifatnya yang stabil, fleksibel, dan bersifat open source. Tingginya tingkat adopsi Linux sebagai server juga menjadikannya target utama berbagai bentuk serangan siber. Salah satu metode serangan yang paling umum adalah port scanning yang bertujuan untuk mengidentifikasi port terbuka dan layanan aktif, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan exploitation terhadap celah keamanan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat keamanan sebuah server Linux terhadap serangan port scanning dan exploitation serta menganalisis potensi kerentanan yang dapat dimanfaatkan oleh penyerang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan eksperimental dengan melakukan simulasi serangan menggunakan tools keamanan, yaitu Nmap untuk port scanning dan Metasploit Framework untuk exploitation. Lingkungan pengujian dirancang dalam jaringan lokal dengan satu mesin server Linux sebagai target dan satu mesin penyerang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa port scanning mampu mengungkap informasi penting terkait port terbuka, layanan yang berjalan, serta versi layanan yang digunakan. Informasi ini dapat menjadi dasar bagi penyerang untuk menentukan teknik exploitation yang sesuai. Selain itu, hasil exploitation menunjukkan bahwa server Linux yang tidak menerapkan pembaruan sistem secara berkala, konfigurasi firewall yang ketat, dan pengamanan layanan dasar memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan hardening server Linux sebagai langkah preventif dalam menghadapi ancaman siber.