Muhammad Irwan Padli Nasution
Program Studi Manajemen, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BEYOND COMPLIANCE: MEMBANGUN DATA GOVERNANCE ADAPTIF DI ERA EKONOMI DATA 2026 Rio Amanda; Muhammad Irwan Padli Nasution
Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/mekar.v1i2.266

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah mendorong transformasi mendasar dalam cara organisasi mengelola dan memanfaatkan data, khususnya dalam konteks era ekonomi data di mana data tidak lagi diposisikan sekadar sebagai pendukung aktivitas operasional, melainkan sebagai aset strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Dalam kondisi tersebut, organisasi dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap regulasi (compliance), tetapi juga mampu mengelola data secara efektif, efisien, dan bernilai tambah. Data Governance hadir sebagai kerangka kerja yang komprehensif dalam mengatur pengelolaan data secara terstruktur dan terintegrasi, mencakup aspek kualitas data, keamanan informasi, aksesibilitas, integritas, serta pemanfaatan data yang bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya penerapan Data Governance yang adaptif dalam menghadapi dinamika ekonomi data yang semakin kompleks dan dinamis. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah yang relevan terkait manajemen data dan transformasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan Data Governance yang adaptif mampu meningkatkan kualitas dan konsistensi data, memperkuat sistem keamanan informasi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara lebih akurat, cepat, dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan ini juga berkontribusi dalam meminimalkan risiko penyalahgunaan data, meningkatkan transparansi, serta membangun kepercayaan terhadap pengelolaan data dalam organisasi. Dengan demikian, Data Governance tidak lagi hanya berfungsi sebagai mekanisme pengendalian, tetapi juga sebagai enabler strategis dalam menciptakan nilai bisnis, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing organisasi, sehingga pendekatan yang melampaui sekadar kepatuhan (beyond compliance) menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi data di masa kini dan masa depan.
Tantangan Manajemen Metadata dalam Ekosistem Informasi yang Berkembang Pesat Febria Najwa Ifanka; Muhammad Irwan Padli Nasution
Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Mekar: Jurnal Dinamika Manajemen dan Akuntansi Modern
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/mekar.v1i2.270

Abstract

Penelitian ini mengkaji tantangan-tantangan kritis yang dihadapi dalam manajemen metadata di tengah ekspansi ekosistem informasi digital yang berlangsung secara masif dan multidimensional. Permasalahan mendasar yang melatarbelakangi kajian ini adalah meningkatnya kompleksitas pengelolaan metadata akibat heterogenitas sumber data, dinamika standar yang terus berubah, serta kebutuhan interoperabilitas lintas sistem dan domain. Tujuan penelitian adalah memetakan, menganalisis, dan mensintesis tantangan utama manajemen metadata berdasarkan perspektif teoritis dan empiris yang tersebar dalam literatur ilmiah kontemporer. Pendekatan yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif melalui studi literatur sistematis terhadap publikasi ilmiah yang relevan, mencakup jurnal, prosiding konferensi, serta buku referensi dalam bidang ilmu informasi, ilmu komputer, dan manajemen data. Hasil kajian mengidentifikasi empat klaster tantangan utama, yaitu: (1) persoalan integrasi dan interoperabilitas metadata lintas sistem; (2) problem kualitas, konsistensi, dan kelengkapan data deskriptif; (3) keterbatasan infrastruktur dalam penerapan prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable); serta (4) kesenjangan dalam preservasi provenance dan paradata pada sistem informasi jangka panjang. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa penguatan tata kelola metadata memerlukan pendekatan terpadu yang memadukan standar teknis, kebijakan organisasional, serta kompetensi sumber daya manusia secara sinergis dan berkelanjutan.