Abstract: This classroom action research examined the use of thematic sewing activities to improve the fine motor skills of children aged 4–5 years at RA Al-Muttaqin. Ten children in Group A participated in two action cycles based on the Kemmis and McTaggart model, comprising planning, action, observation, and reflection. Data were collected through structured observation, teacher interviews, and documentation, and were analyzed descriptively using quantitative recapitulation and qualitative interpretation. The observed indicators included hand–eye coordination, accuracy in inserting yarn through holes, finger flexibility, ability to follow a pattern, and task completion. Across the action cycles, children showed progressively better control of finger movements, more consistent visual–motor coordination, greater accuracy in following sewing patterns, and increased independence in completing tasks. Improvement was more evident in the second cycle after repeated demonstrations, guided practice, and the use of child-friendly materials such as plastic needles, perforated cardboard, and colored wool yarn. The findings indicate that developmentally appropriate sewing activities can provide repeated visual–motor practice while maintaining children’s engagement in a meaningful thematic context. The activity may therefore be used as an alternative classroom strategy for supporting fine motor development in early childhood education. Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini mengkaji penggunaan kegiatan menjahit tematik untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 4-5 tahun di RA Al-Muttaqin. Subjek penelitian terdiri atas 10 anak kelompok A. Tindakan dilaksanakan dalam dua siklus dengan model Kemmis dan McTaggart yang mencakup perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur, wawancara dengan guru, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui rekapitulasi kuantitatif dan interpretasi kualitatif. Indikator yang diamati meliputi koordinasi mata dan tangan, ketepatan memasukkan benang ke lubang, kelenturan gerakan jari, kemampuan mengikuti pola, dan penyelesaian tugas. Hasil observasi menunjukkan perkembangan bertahap pada kontrol gerak jari, koordinasi visual-motor, ketepatan mengikuti pola jahitan, serta kemandirian anak dari pra-tindakan hingga siklus II. Perbaikan pada siklus II tampak lebih konsisten setelah guru mengulang demonstrasi, memberikan latihan terbimbing, dan menggunakan media yang aman berupa jarum plastik, karton berlubang, serta benang wol berwarna. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan menjahit yang disesuaikan dengan tahap perkembangan dapat menjadi latihan visual-motor yang berulang sekaligus menarik bagi anak. Kegiatan tersebut dapat digunakan sebagai alternatif strategi pembelajaran untuk mendukung perkembangan motorik halus pada pendidikan anak usia dini.