Achalasia esofagus merupakan kelainan motilitas primer yang ditandai dengan hilangnya relaksasi Lower Esophageal Sphincter (LES) sehingga menghambat perjalanan bolus makanan menuju lambung. Kondisi ini menimbulkan gejala disfagia dan berisiko menyebabkan dilatasi esofagus apabila tidak terdeteksi sejak dini. Pemeriksaan fluoroskopi Oesofagus Maag Duodenum (OMD) merupakan modalitas radiologi yang mampu menilai anatomi sekaligus fungsi saluran cerna bagian atas secara real time dengan bantuan media kontras. Penelitian ini bertujuan menguraikan teknik pemeriksaan fluoroskopi OMD pada pasien dengan klinis achalasia esofagus di Instalasi Radiologi RS Adam Malik Medan, sekaligus mengkaji alasan penggunaan proyeksi tertentu pada kasus tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dilakukan melalui observasi langsung, wawancara terhadap radiografer, serta penelusuran dokumentasi hasil pemeriksaan pada satu orang pasien yang dipilih secara purposive sampling. Hasil kajian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan diawali dengan persiapan puasa, dilanjutkan pemberian media kontras barium sulfat yang dicampur minuman bersoda, kemudian dilakukan pengambilan gambar pada proyeksi anteroposterior, lateral, dan right anterior oblique. Ketiga proyeksi tersebut dipilih karena telah mampu memperlihatkan pengisian kontras pada esofagus, lambung, dan duodenum secara memadai untuk menegakkan diagnosis. Temuan radiografis memperlihatkan pelebaran esofagus disertai penyempitan pada segmen distal yang membentuk gambaran khas menyerupai paruh burung (bird beak sign), sesuai dengan karakteristik radiologis achalasia esofagus. Dengan demikian, kombinasi proyeksi anteroposterior, lateral, dan right anterior oblique terbukti efektif dan efisien dalam menunjang penegakan diagnosis achalasia esofagus tanpa mengurangi kualitas informasi diagnostik yang dihasilkan.