p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Nexus of Learning
Diana Handayani
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Motivasi dalam Sudut Pandang Psikologi Pendidikan dan Perannya dalam Kegiatan Pembelajaran Diana Handayani
Nexus of Learning: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 1 (2026): Improving Pedagogical Practices
Publisher : Masyarakat Cita Insani (YAMACITA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66957/m35jjn92

Abstract

AbstractLearning is a process of action/experience that occurs to produce something new, whether in the form of abilities, knowledge, willingness, skills, habits, attitudes, and behavior. Operationally, learning involves an effort and endeavor to master this new knowledge. Therefore, to successfully achieve a goal, a mental activity called motivation is necessary. The method used by the researcher was a literature study. Motivation is a psychological phenomenon in the form of a conscious or unconscious drive within a person to perform a behavior/action with a specific goal. Someone who demonstrates a drive to achieve a specific goal is motivated; conversely, a person who is not motivated does not exhibit a drive to do something. AbstrakBelajar ialah suatu proses tindakan/pengalaman yang terjadi untuk menghasilkan sesuatu yang baru baik itu berupa kemampuan, pengetahuan, kemauan, keterampilan, kebiasaan, sikap dan tingkah laku. Sedangkan secara operasionalnya bahwa dalam belajar itu ada upaya dan usaha untuk menguasai hal yang baru tersebut, sehubungan dengan hal itu maka untuk suskses mendapatkan dan mencapai tujuan perlu adanya salah satu aktivitas mental yang disebut dengan motivasi. Metode yang peneliti gunakan adalah studi kepustakaan. Motivasi merupakan gejala psikologis dalam bentuk suatu dorongan pada diri seseorang yang timbul secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu prilaku/tindakan dengan adanya tujuan tertentu. Seseorang yang menunjukkan adanya dorongan untuk mencapai suatu tujuan tertentu maka ia sedang mempunyai motivasi dalam dirinya, begitupula sebaliknya tidak nampak suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu ketika dirinya tidak sedang termotivasi.
Hadis Sebagai Penjelas Dalam Al-Qur'an Diana Handayani
Nexus of Learning: Journal of Education and Pedagogy Vol. 1 No. 1 (2026): Improving Pedagogical Practices
Publisher : Masyarakat Cita Insani (YAMACITA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66957/kcrg9a37

Abstract

AbstractHadith is something attributed to the Prophet Muhammad (peace be upon him), whether in the form of words, deeds, statements (taqrir), and so on. Hadith holds a very urgent position in Islam. It is the second source of law after the Quran. The Quran would be difficult to understand without the intervention of hadith. Regarding the position of hadith alongside the Quran as a source of Islamic teachings, the Quran is the primary source, while hadith is the secondary source. It is even difficult to separate the two, as they are a unified whole. The Quran, as the primary and primary source, contains many general and global teachings. Therefore, the presence of hadith as a secondary source of teachings serves to explain (bayan) the generality of the Quran's contents. The research problem to be explained in this paper is how hadith function as an explanatory text in the Quran. Furthermore, the method used in this paper is library research, a type of research that is determined by the location of data collection. The hadith as a bayan (explanation) of the Qur'an is divided into four parts: Bayan Al-Taqrir, which strengthens or solidifies what has been explained in the Qur'an; Bayan At-Tafsir, which clarifies, details, and specifically addresses verses of the Qur'an that are still global; Bayan At-Tasyri', which establishes new laws not found in the Qur'an; and Bayan Al-Naskh, which abolishes or eliminates old provisions in the Qur'anic text. Abstrak.Hadis merupakan sesuatu yang dinisbahkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir), dan sebagainya. Adapun Hadits dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat urgen. Di mana hadits merupakan salah satu sumber hukum kedua setelah al-Quran. Al-Quran akan sulit dipahami tanpa intervensi hadits. Kaitannya dengan kedudukan hadits di samping Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, maka Al-Qur’an merupakan sumber pertama, sedangkan hadits merupakan sumber kedua, bahkan sulit dipisahkan antara keduanya, karena merupakan suatu kesatuan. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh karena itu kehadiran hadis sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi al-Qur’an tersebut. Adapun rumusan masalah yang ingin dijelaskan dalam tulisan ini yakni tentang bagaimana fungsi hadis sebagai penjelas dalam al-Qur’an. Kemudian metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu (Library Research) yaitu jenis penelitian yang dilihat dari tempat pengambilan datanya. Adapun hadis sebagai bayan (penjelas) terhadap al-Qur’an dibagi menjadi empat bagian yakni bayan Al-Taqrir yaitu memperkuat atau memperkokoh apa yang telah diterangkan di dalam al-Qur’an, bayan At-Tafsir yaitu memperjelas, merincikan dan mengkhsuuskan terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih bersifat global, bayan At-Tasyri’ yaitu menetapkan hukum baru yang tidak didapati dalam al-Qur’an, kemudian bayan Al-Naskh yaitu menghapus atau menghilangkan ketentuan lama dalam nash al-Qur’an.