Di era disrupsi digital, mahasiswa sering kali terjebak dalam paradoks antara kemahiran mengoperasikan teknologi dan kerentanan terhadap infiltrasi radikalisme digital. Kampus, yang seharusnya menjadi pusat moderasi, sering kali kecolongan oleh narasi ekstremis yang menyusup melalui celah minimnya nalar kritis di media sosial. Literasi digital yang bersifat teknis semata dianggap kurang memadai untuk menghadapi gejolak ideologi tersebut, sehingga diperlukan integrasi nilai-nilai Qur’ani sebagai jangkar spiritual dan kompas epistemologis bagi civitas akademika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis di IAI Al-Amanah Jeneponto. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif pasif terhadap pola komunikasi digital mahasiswa, serta audit dokumentasi kurikulum (RPS). Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa terpapar risiko radikalisme digital melalui algoritma media sosial yang menciptakan filter bubble dan pemahaman teologis yang kaku. Sebagai solusi, dilakukan internalisasi tiga nilai fundamental Qur’ani: tabayyun (verifikasi informasi), qaulan sadidan (kejujuran informasi/integritas akademik), dan wasathiyah (moderasi beragama). Strategi implementasi dilakukan melalui "Infiltrasi Kurikuler" pada Program Studi Pendidikan Tarbiyah, di mana nilai-nilai tersebut disisipkan secara organik dalam mata kuliah inti dan praktik pembuatan narasi tandingan (counter-narrative). Integrasi literasi digital berbasis nilai Qur’ani terbukti efektif meningkatkan resiliensi mahasiswa terhadap paham radikal. Perpaduan antara kecakapan teknis dan bimbingan wahyu menciptakan "vaksin ideologis" yang memperkokoh identitas mahasiswa sebagai Muslim moderat yang bijak di ruang siber. Model ini menawarkan prototipe bagi perguruan tinggi Islam dalam menghadapi tantangan keamanan siber dan menjaga marwah institusi di era Masyarakat 5.0.