Perluasan area kerja dapat meningkatkan tuntutan dan tekanan yang dihadapi pekerja, khususnya pada unit layanan pelanggan. Kondisi tersebut menjadikan kemampuan mengelola stres penting untuk diperhatikan, salah satunya melalui kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional dan stres kerja karyawan serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan strategi korelasional. Data dikumpulkan dari 64 karyawan melalui kuesioner dengan skala Likert yang mengukur kecerdasan emosional dan stres kerja. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi meskipun menghadapi tekanan kerja pada tingkat ringan hingga sedang. Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat dan signifikan secara statistik antara kecerdasan emosional dan stres kerja, dengan nilai r = -0,639 dan p < 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional karyawan, semakin rendah tingkat stres kerja yang dirasakan. Dengan demikian, kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam membantu karyawan menghadapi tuntutan dan tekanan pekerjaan. Berdasarkan temuan tersebut, karyawan membutuhkan kecerdasan emosional yang tinggi untuk mengelola stres kerja secara efektif serta mempertahankan kinerja yang konsisten meskipun menghadapi perubahan eksternal. Pengembangan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi perlu diperhatikan sebagai salah satu upaya untuk membantu karyawan menghadapi stres kerja secara adaptif dan menjaga kinerja dalam lingkungan kerja yang dinamis.