Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronik (PGK) yang memerlukan terapi hemodialisis. Pada pasien DM tipe 2 yang menjalani hemodialisis, kadar glukosa darah berfluktuasi akibat berbagai faktor yang saling terkait, termasuk difusi glukosa ke dalam cairan dialisat, peningkatan sensitivitas insulin setelah pembersihan toksin uremik, serta penurunan glukoneogenesis ginjal. Namun demikian, penelitian mengenai perubahan kadar glukosa darah secara akut sebagai respons terhadap hemodialisis pada populasi DM tipe 2 di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kadar glukosa darah sebelum dan setelah hemodialisis pada pasien DM tipe 2 di RSU Royal Prima Medan tahun 2026. Penelitian analitik retrospektif dengan pendekatan total sampling ini melibatkan seluruh pasien DM tipe 2 yang menjalani hemodialisis di RSU Royal Prima Medan pada Mei 2026 dan memenuhi kriteria inklusi-eksklusi (n=82). Data kadar glukosa darah pra dan pasca hemodialisis diperoleh dari laporan harian unit hemodialisis. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan distribusi data tidak normal (p<0,05), sehingga analisis dilanjutkan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Sebanyak 57 dari 82 pasien (69,5%) mengalami penurunan kadar glukosa darah setelah hemodialisis, dan uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan perbedaan signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah hemodialisis (p<0,001). Dengan demikian, terdapat penurunan kadar glukosa darah yang signifikan secara statistik pada pasien DM tipe 2 setelah hemodialisis di RSU Royal Prima Medan tahun 2026, yang menegaskan efek akut hemodialisis terhadap penurunan kadar glukosa darah dan pentingnya pemantauan glukosa yang lebih intensif selama dan setelah sesi hemodialisis, terutama pada pasien berisiko hipoglikemia.