Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pola Makan Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Badan Bayi Baru Lahir di Jember Herlia Putri Salsabila; Jamhariyah; Eni Subiastutik
Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan Vol. 5 No. 03 (2026): Article In Press - Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : The Indonesian Institute of Science and Technology Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56741/bikk.v5i03.2529

Abstract

Asupan nutrisi mengacu pada pola makan ibu hamil, dimana sebagian besar ibu hamil memiliki pola makan yang tidak sehat dilihat dari jumlah, jenis, dan frekuensi. Porsi makanan yang belum sesuai dengan gizi seimbang pada ibu hamil akan mengakibatkan bayi lahir prematur dan BBLR yang sampai saat ini terus meningkat dari 2,5% menjadi 3,9% (2023). BBLR di Wilayah Puskesmas Sumberjambe, Jember mencapai 67,4% yang termasuk 3 tertinggi di Jember. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan ibu hamil trimester III dengan berat badan bayi baru lahir di wilayah Puskesmas Sumberjambe. Metode : Desain penelitian menggunakan cross-sectional. Populasi 112 ibu hamil trimester III dengan sampel 88. Pengambilan sampel menggunakan proportionate random sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan uji analisis dengan Spearman rank. Hasil : sebagian besar ibu hamil trimester III dengan pola makan cukup 59%, pola makan baik 27%, dan pola makan kurang 14%. Hampir seluruh bayi lahir dengan BBLN 75%, BBLR 23%, dan BBLB 2%. Hasil uji statistik diperoleh p < 0,001 yang berarti terdapat hubungan antara pola makan ibu hamil trimester III dengan berat badan bayi baru lahir. Kesimpulan : Pola makan yang cukup hingga baik ada hubungannya dengan melahirkan bayi dengan berat badan normal. Namun, tidak semua ibu hamil yang memiliki pola makan baik melahirkan bayi dengan berat lahir normal. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Ibu hamil trimester III disarankan lebih memperhatikan pola makan dari sisi kuantitas dan kualitas pola makan dengan gizi seimbang yang memenuhi isi piringku.
Hubungan Pengetahuan dan Pendidikan dengan Perilaku Periksa Payudara Sendiri (SADARI) pada Akseptor KB Hormonal di Lingkungan Baratan Timur RT 1,3,4 Kabupaten Jember Salsabilla Wahyu Valentin; Kiswati; Jamhariyah
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 4 (2026): October : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i4.1617

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan di dunia. Penggunaan kontrasepsi hormonal diketahui sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara akibat perubahan keseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Upaya deteksi dini melalui Periksa Payudara Sendiri (SADARI) menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menemukan kelainan payudara sejak dini. Pengetahuan dan pendidikan diduga memengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan SADARI. Menganalisis hubungan pengetahuan dan pendidikan dengan perilaku Periksa Payudara Sendiri (SADARI) pada akseptor KB hormonal di Lingkungan Baratan Timur RT 1, 3, dan 4 Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 25 akseptor KB hormonal dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 5% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, berpendidikan dasar, dan memiliki perilaku SADARI dalam kategori cukup. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku SADARI (p = 0,395) maupun antara pendidikan dengan perilaku SADARI (p = 0,566). Pengetahuan dan pendidikan tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku SADARI pada akseptor KB hormonal. Meskipun demikian, edukasi kesehatan mengenai deteksi dini kanker payudara tetap perlu ditingkatkan melalui penyuluhan yang berkesinambungan oleh tenaga kesehatan.