Anandito, Baskara Katri
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PRODUKSI OLEORESIN BERBAHAN BAKU LIMBAH DESTILASI KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) Adi, Dimas Nurcahyo; Khasanah, Lia Umi; Anandito, Baskara Katri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.658 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12906

Abstract

EKSTRAKSI OLEORESIN KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) : OPTIMASI RENDEMEN DAN PENGUJIAN KARAKTERISTIK MUTU Widiyanto, Ivan; Anandito, Baskara Katri; khasanah, Lia Umi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.134 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rendemen optimum dalam proses produksi oleoresinkayu manis pada variasi ukuran bahan, suhu dan waktu kontak selama proses ekstraksi maserasi dan mengetahuikarakteristik mutu oleoresin kayu manis yang meliputi kadar sinamaldehid, kadar minyak atsiri, dan kadar sisapelarut (kadar metanol) . Penelitian ini menggunakan variasi ukuran bahan (20, 50, dan 80 mesh), suhu ekstraksi(45, 55, 65 °C), dan waktu ekstraksi (2, 4, 6 jam). Pada pengolahan data dengan menggunakan Response SurfaceMethodology (RSM) diketahui persamaan optimasi rendemen oleoresin kayu manis yaitu : Y= 21,179 +0,6945X1 +0,1371X2 -0,0369X3 +0,8635X12 -0,5757X22 -0,4433X32 +0,1248X1X2 -0,4243X1X3 -0,0660 X2X3 .Rendemen optimum oleoresin kayu manis yang diperoleh sebesar 21,0513% yang didapat pada kondisi ukuranpartikel 38,76 mesh, suhu 55,709°C, dan waktu ekstraksi 4,265 jam. Karakteristik mutu oleoresin kayu manispada rendemen optimum yaitu kadar sinamaldehid 65,88 %, kadar minyak atsiri 25,95 % dan kadar sisa pelarut( kadar metanol ) 0,33%.
PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN SENSORI TEPUNG TEMPE"BOSOK" Andriani, Martina; Anandito, Baskara Katri; Nurhartadi, Edhi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1476.986 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13522

Abstract

Tempe “bosok”,sering kali disebut tempe “over ripe” atau “over fermented”, sangat digemari oleh masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah karena memiliki rasa dan aroma yang khas dan dipakai sebagai bahan pembangkit cita rasa alami dalam masakan. Mengingat manfaat yang begitu besar dari tempe “bosok” sebagai bumbu penyedap masakan dan ketersediaannya masih dalam bentuk segar, maka diperlukan suatu teknologi untuk memperpanjang umur simpan dan mempermudah penggunaannya yaitu dengan teknik pengeringan dan penepungan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu suhu pengeringan (55°C, 60°C, dan 65°C). Anallisis data menggunakan uji analisis varian (ANOVA), jika ada perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan analisis Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat signifikansi α = 0,05.Karakteristik fisik tepung tempe “bosok” pada berbagai suhu pengeringan adalah: Rendemen berkisar 26,46-29,40%, bulk density 0,52-0,59 g/cm3, kelarutan tepung 99,9956-99,9972%, dan daya serap air 1,39-2,35 ml/g. Berdasarkan karakteristik fisik dan sensoris, tepung tempe “bosok” yang disukai panelis adalah tempe “bosok” yang dikeringkan pada suhu 60°C. Tepung tempe “bosok” dengan suhu pengeringan 60°C menghasilkan rendemen 28,10%, bulk density 0,53 g/cm3, kelarutan tepung 99,9972%, daya serap air 1,96 ml/g, kadar air 8,45%. Karakteristik sensoris tepung tempe “bosok” dengan suhu pengeringan 60°C yang disukai panelis adalah tepung tempe “bosok” yang memiliki warna coklat, aroma khas tempe “bosok” yang tidak terlalu menyengat, dan tekstur yang halus dan kering atau tidak lembab.
The Empowerment of The Joho Village Farmers Groups Through Corn Grit Production Siswanti, Siswanti; Anandito, Baskara Katri; Hartanto, Rofandi; Widowati, Dyah
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 7, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v7i1.71547

Abstract

Most of the Joho Village people depend on rice as a staple, which triggers limited economic growth in the agricultural sector. The area has abundant corn yields and is potentially processed as corn grits (rice alternative). Corn processing has solely in dry-shelled corn form, a drop in corn-shelled prices, the stagnant of the Farmers Groups Association (FGA) activity, and the lack of knowledge (food products processing, entrepreneurship, and digital marketing) underlie these community service activities. The service activities aim to optimize the program for implementing science, technology, and FGA empowerment in Joho Village to discover corn grit production potential and ensure the sustainability of FGA community activities. Therefore, the service team agreed with Joho Village FGA to organize programs: (1) Corn grit and production methods socialization (Zoom meetings and direct discussion); (2) Production equipment introduction (direct discussion); (3) Corn grits production training (hands-on practice method); (4) Entrepreneurship and digital marketing socialization (direct discussion). The questionnaire was selected as a socialization evaluation method. Joho Village FGA has high enthusiasm for activity participation (90% of attendance). The service activities succeeded in increasing corn grit production expertise (86% of yield) and improved the knowledge of corn grits (80% of increased knowledge), entrepreneurship (81.25% of increased knowledge), and digital marketing (70% of increased knowledge) of Joho Village FGA. These achievements indicated corn grit production potential as the forecast of their business opportunities in the future and embarked on the beginning of Joho Village FGA’s empowerment sustainability.