Edhi Nurhartadi
Department Of Food Science And Technology, Faculty Of Agriculture, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ISOLASI DAN KARAKTERISASI YEAST AMILOLITIK DARI RAGI TAPE Nurhartadi, Edhi; Rahayu, Endang Sutriswati
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.857 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13600

Abstract

The demand of sugar increases every year caused by people growth. Indonesia has starchy materialslike tapioca and for long time used to produce food by traditional fermentation with ragi tape. Ragi tapecontains many amylolytic and fermentative microbial. The object of this study was to isolate amylolytic yeastfrom ragi tape, which could be used to produce amylolytic enzymes as an alternative source of amylolyticenzyme from microbial origin. Isolation was done by dilution and spread plate methods on peptone glucoseyeast extract soluble starch (PGYS) agar medium, incubated 30C, for 2 days and purified with same medium.The isolates were then identified based on morphology and physiology profiles. Selection of the strongest isolatewith high amylolytic potent was done with amylolytic activity. The chosen isolate was then used to produceamylolytic enzyme in yeast extract malt extract soluble starch (YMS) medium with variation of soluble starchcontent. 15 amylolytic yeast isolates have been isolated, and then identified with taxonomic keys were suspectedas Debaryomyces vanriji (4 isolates), Saccharomycopsis fibuligera (3 isolates), and Pichia burtonii (8 isolates).They could grow well on starch medium. The result of selection based on amylolytic activity showed that S.fibuligera E-3 was the strongest among the others. From the fermentation, this research obtained the cellscontent increased or obtained logarithmic phase in 1st day of fermentation, and after 2nd day reached stationaryphase medium. The reduction sugar content increased in 1st day of fermentation, after 2nd day was increasedslowly. The soluble starch content was decreased rapidly in 1st day, after 2nd day was decreased slowly. Theglucoamylase activity was high at 1st day, but in 2nd day was low. S. fibuligera had glucoamylase activity 44.13mg glucose/L/min/1 ml enzyme solution.
Karakterisasi bakteri pektinolitik dari limbah kulit jeruk dan karakterisasi pektinase yang dihasilkan serta studi aplikasinya untuk penjernihan sari buah Jeruk Pontianak Esti Widowati; Rohula Utami; Edhi Nurhartadi; Fenny Fenny
Journal of Tropical AgriFood Volume 2, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.2.1.2020.3937.34-44

Abstract

PKejernihan merupakan salah satu parameter penting kualitas sari buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri pektinolitik dari limbah kulit jeruk. Dilakukan pula karakterissasi enzim pektin hidrolase ekstraseluler yang dihasilkan meliputi kondisi optimum untuk aktivitas dan kestabilannya, nilai KM dan Vmax. Pengaruh penambahan enzim pektin hidrolase ekstraseluler terhadap kekeruhan, viskositas, dan total padatan terlarut sari buah jeruk Pontianak juga diamati. Hasil dari penelitian didapatkan 10 isolat bakteri dengan karakter semua isolat bakteri merupakan Gram negatif, endospora negatif, dan katalase positif. Pada penjernihan sari buah jeruk Pontianak terpilih 3 isolat bakteri untuk karakterisasi enzim yaitu isolat A, H, dan I. Karakter enzim ditentukan berdasarkan pH optimum, suhu optimum, kestabilan pH dan suhu, serta nilai KM dan Vmaks. Enzim isolat A optimum pada pH 4 dan stabil pada pH 4-5; enzim isolat H optimum pada pH 4 dan stabil pada pH 3-4; enzim isolat I optimum pada pH 4-4,5 dan stabil pada pH 3-5. Ketiga enzim isolat optimum pada suhu 50oC dan stabil pada suhu 30-50oC. Nilai KM enzim isolat A, H dan I berturut-turut adalah 0,022; 0,011; 0,017 mg mL-1 dan nilai Vmaks berturut-turut adalah 0,041; 0,038; 0,039 U mL-1. Enzim pektin hidrolase ekstraseluler dari ketiga isolat tersebut dapat diaplikasikan pada penjernihan sari buah jeruk Pontianak.
Pengaruh Minyak Atsiri Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Coating Terhadap Kualitas Fillet Ikan Patin Rohula Utami; Kawiji Kawiji; Edhi Nurhartadi; Muslika Kurniasih; Dedy Indianto
agriTECH Vol 33, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.255 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9535

Abstract

The effects of edible coating enriched with red ginger and red galangal essential oil on the quality of patin fillets during refrigerated storage of 8 days were examined. fish quality determined was based on microbiological (Total Plate Count /TPc) and physicochemical (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, and color) quality. Treatment variation of patin fillets were essential oil concentration enriched in edible coating (0 %, 0.1%, 1%). The results indicated that both red ginger and red galangal essential oil could affect patin fish fillets quality. Essential oilenrichment edible coating will retain the patin fillets quality. In terms of microbial quality and TVB value, 1% essential oil of red ginger and red galangal enrichment in edible coating could extend shelf life of patin fillets for 2-4 days.ABSTRAKPenentuan pengaruh penambahan minyak atsiri jahe merah dan lengkuas merah dalam edible coating terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin dilakukan pada periode waktu 8 hari. Parameter kualitas ikan yang dianalisis adalah kualitas mikrobiologis (Total Plate Count/TPc), dan kualitas fisikokimia (Total Volatile Bases/TVB, Thiobarbituricacid/TBa, pH, dan warna). Variasi perlakuan fillet ikan patin yaitu konsentrasi minyak atsiri (0 %; 0,1%; 1%) yang ditambahkan dalam edible coating. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan minyak atsiri baik jahe merah maupun lengkuas merah berpengaruh terhadap kualitas fillet ikan patin selama penyimpanan dingin. Penambahan minyak atsiri dalam edible coating mampu mempertahankan kualitas fillet ikan patin lebih baik dibandingkan perlakuan edible coating tanpa minyak atsiri. Berdasarkan kualitas mikrobiologis dan nilai TVB, perlakuan minyak atsiri jahe merah 1% dan minyak atsiri lengkuas merah 1% mampu meningkatkan umur simpan fillet ikan patin selama 2-4 hari.
Formulasi Pangan Darurat Berbentuk Food Bars Berbasis Tepung Millet Putih (Panicum milliaceum L.) dan Tepung Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) Raden Baskara Katri Anandito; Siswanti Siswanti; Edhi Nurhartadi; Rini Hapsari
agriTECH Vol 36, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.899 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10680

Abstract

This study aimed to obtain a formula emergency food in the form food bars made from white millet flour and red bean flour. Foodbars made with Intermediate Moisture Food (IMF) technology with wet dyeing technique. This study used completely randomized design (CRD), which consists of a single factor, namely the variation formula white millet flour and red bean flour. The results showed that the formula food bars with the highest level of consumer acceptance in the composition of 15 g of white millet flour, red bean flour 10 g, 2 g sugar, 10 g margarine, milk full cream 13 g, 6.043 g and the addition of water. In 100 g of food bars contained water, ash, protein, fat, carbohydrate, and caloric value a respectively of 16.45%, 1.45%, 10.99%, 35.39%, 42.26%, 0 , 81 and 233.80 kcallbar.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula pangan darurat berbentuk food bars berbahan dasar tepung millet putih dan tepung kacang merah. Food bars dibuat dengan teknologi Intermediate Moisture Food (IMF) dengan teknik pencelupan basah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor yaitu variasi formula tepung millet putih dan tepung kacang merah (15:10; 12,5:12,5; 10:15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula food bars dengan tingkat penerimaan konsumen tertinggi pada komposisi tepung millet putih 15 g, tepung kacang merah 10 g, gula halus 2 g, margarine 10 g, susu full cream 13 g, dan penambahan air 6,043 g. Dalam 100 g food bars terkandung air, abu, protein, lemak, karbohidrat nilai a  dan kalori berturut-turut sebesar 16,45%,1,45%, 10,99%, 35,39%, 42,26%, 0,81 dan 233,80 kkallbar.
Fermentasi Whey Keju Menggunakan Biji Kefir (Kefir Grains) dengan Variasi Sumber Nitrogen Rohula Utami; Edhi Nurhartadi; Asri Nursiwi; Martina Andriani
agriTECH Vol 37, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.524 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10698

Abstract

Cheese whey is a waste product in cheese processing which contains 4–5% of lactose. Having high carbon source, this material could be a potential  fermentation medium for kefir grains. During fermentation of kefir grains, alcohol, lactic acid and exopolysaccharide (kefiran) were produced. The kefir grains fermentation also affected by nitrogen source. Therefore, effects of different composition of lactose and nitrogen sources (including yeast extract, urea and mung bean sprouts extract)  in the fermentation were examined in this study. The results showed that after 24 hours of incubation, kefir grains biomass reached 21.30-27.15 g (dry wt, g/250mL medium) from 25 g of intial kefir grains biomass. Fermentation broth showed pH values ranged from 3.49–3.94; alcohol level ranged from 0.11-0.31%; and lactic acid content ranged from 0.49–1.47%. The total of kefiran extracted from kefir grain and fermentation broth ranged from 0.63-1.76 g/L. This study indicated that cheese whey can be used as fermentation medium to produce alcohol, lactic acid and kefiran by kefir grains. The highest production of kefiran was achieved in the medium containing 1.2% of whey lactose and 4% of mung bean sprouts extract.Cheese whey is a waste product from cheese processing industry which still has lactose content of 4-5%, so that it can be used as a carbon source in the fermentation medium of kefir grains. During fermentation of kefir grains, alcohol, lactic acid and exopolysaccharide commonly called as kefiran were produced. The kefir grains fermentation also affected by nitrogen source. Furthermore, fermentation medium composition were varied at whey lactose concentration and nitrogen source composition (yeast extract, urea and mung bean sprouts extract) for kefir grains fermentation. The results showed that after 24 hours fermentation, kefir grains biomass ranged from 21.30-27.15 g; pH values ranged from 3.49-3.94; alcohol level ranged from 0.11-0.31%; lactic acid content ranged from 0.49-1.47%; and the total of kefiran ranged from 0.63-1.76 g/L. Fermentation medium composition that produced the higher total of kefiran was 1,2% whey lactose and 4% mung bean sprouts extract as nitrogen source. ABSTRAKWhey keju adalah produk sampingan dari industri pengolahan keju yang masih memiliki kandungan laktosa sebesar 4–5% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon pada media fermentasi oleh biji kefir. Selama proses fermentasi menggunakan biji kefir terjadi pembentukan alkohol, asam laktat dan eksopolisakarida (kefiran). Sumber nitrogen juga dapat mempengaruhi proses fermentasi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan variasi perlakuan, yaitu variasi konsentrasi laktosa pada whey dan variasi komposisi sumber nitrogen (yeast extract, urea dan ekstrak tauge kacang hijau) sebagai media fermentasi oleh biji kefir. Setelah fermentasi biji kefir selama 24 jam, jumlah biomassa biji kefir berkisar antara 21,30–27,15 g (berat kering g/250 mL medium fermentasi) dari jumlah biomassa awal 25 g. Cairan fermentasi menunjukkan nilai pH berkisar antara 3,49–3,94; kadar alkohol berkisar antara 0,11–0,31% dan kadar asam laktat berkisar antara 0,49–1,47%. Total rendemen kefiran yang didapatkan dari ekstraksi biji kefir dan cairan fermentasi berkisar antara 0,63–1,76 g/L.  Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa whey keju dengan penambahan sumber nitrogen dapat digunakan sebagai medium fermentasi oleh biji kefir untuk menghasilkan metabolit berupa alkohol, asam laktat dan kefiran. Variasi formulasi media fermentasi yang menghasilkan kefiran dalam jumlah tertinggi adalah penggunaan konsentrasi laktosa whey keju 1,2% dan sumber nitrogen dari ekstrak tauge kacang hijau sebesar 4%.
Produksi dan Karakterisasi Enzim Pektinase oleh Bakteri Pektinolitik dalam Klarifikasi Jus Jeruk Manis (Citrus cinensis) Esti Widowati; Rohula Utami; Edhi Nurhartadi; M.A.M. Andriani; Ambar Wuri Wigati
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.034 KB)

Abstract

Senyawa pektin dapat menyebabkan jus jeruk tampak keruh dan berkabut. Klarifikasi dengan enzim pektinase dapat dilakukan untuk menghilangkan kekeruhan tersebut. Enzim pektinase diisolasi dari bakteri pektinolitik yang diperoleh dari limbah kulit jeruk. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri pektinolitik dari limbah kulit jeruk, menentukan karakter enzim pektinase (pH optimum, suhu optimum, KM dan Vmaks) dan mengetahui pengaruh enzim pektinase dalam klarifikasi jus jeruk manis. Hasil pewarnaan Gram dan pewarnaan endospora menunjukkan bahwa semua isolat bakteri yang didapatkan termasuk bakteri Gram negative dan tidak menghasilkan spora. Dari sepuluh isolat bakteri dipilih tiga isolat yang menghasilkan enzim yang terbaik dalam proses klarifikasi jus jeruk manis yaitu isolat 2, 3 dan 9. Isolat dipilih berdasarkan pada nilai viskositas yang rendah, nilai total padatan terlarut yang tinggi dan nilai transmitansi yang tinggi. Karakter enzim ditentukan berdasarkan pH optimum, suhu optimum, kestabilan pH dan suhu, nilai KM dan Vmaks. Isolat 2, 3 dan 9 optimum pada pH 4,0, Isolat 2 optimum pada suhu 450C, Isolat 3 dan 9 optimum pada suhu 500C. Isolat 2, 3 dan 9 stabil pada kisaran pH 3,0-4,0 dan suhu 30-500C. Nilai KM isolat 2, 3 dan 9 berturut-turut yaitu 0,0246; 0,0199; 0,0170 mg/ml, sedangkan nilai Vmaks berturut-turut yaitu 0,0402; 0,0393; 0,0386 U/ml.
KAJIAN SIFAT FISIK, KIMIA DAN SENSORIS CRACKERS SUBSTITUSI TEPUNG SUKUN (Artocarpus communis) TERMODIFIKASI ASAM ASETAT DENGAN PENAMBAHAN SARI DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius) Astuti, Dwi; Kawiji, Kawiji; Nurhartadi, Edhi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 11, No 1 (2018): Februari
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.14 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v11i1.29086

Abstract

The purpose of this research was to determine the effect of substitution of acetic acid modified breadfruit flour with the addition of pandan leaves extract against physic, chemical and sensory characteristic of crackers and determine their antioxidant activity on crackers. This study uses a Completely Randomized Design (CRD) with one factor substitution of acetic acid modified breadfruit flour. Sensory data were analyzed by one-way ANOVA, if there is a difference it was followed with significance test using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at significance level of 0,05. The results showed that substitution of acetic acid modified breadfruit flour did not significantly affect the physical characteristic (hardness), chemical characteristics such as moisture content, ash, protein, carbohydrate and antioxidant activity of crackers. However, the substitution of acetic acid modified breadfruit flour affected the levels of fat, crude fiber, sensory characteristics (colour, flavor, taste, texture and overall) of crackers. The antioxidant activity of crackers is about 3.27%-4.16%.
PENGARUH PENGGUNAAN ASAM ASETAT DAN EDIBLE COATING EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP KUALITAS FILLET IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN Al Hakim, Muhammad Luqman; Hartanto, Rofandi; Nurhartadi, Edhi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.299 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v9i2.12850

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak bawang putih pada edible coating dan penggunaan pengawet asam asetat terhadap kualitas dan umur simpan fillet ikan nila merah selama penyimpanan suhu dingin dan mengetahui konsentrasi ekstrak bawang putih pada edible coating dan konsentrasi asam asetat yang terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu variasi konsentrasi asam asetat dan ekstrak bawang putih. Penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu penentuan konsentrasi ekstrak bawang putih yang ditambahkan pada edible coating dan pengujian kesegaran daging ikan dengan uji TPC (Total Plate Count), pH, kadar air, TBA (Thiobarbituric Acid), TVB (Total Volatile Base), dan warna (chromameter) selama 12 hari yang diuji pada hari ke-0, 4, 8, dan 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak bawang putih adalah 20% dan konsentrasi tertinggi yang masih diterima oleh panelis adalah 30%. Perendaman fillet ikan nila merah dalam asam asetat dan pelapisan edible coating ekstrak bawang putih dapat menghambat kerusakan fisik, kimia, dan mikrobiologis sampai hari ke-8 pada suhu penyimpanan 4±1ºC. Perlakuan terbaik adalah asam asetat dengan konsentrasi 1% dan ekstrak bawang putih 20%.Kata Kunci : asam asetat, edible coating, ekstrak bawang putih, nila merah, suhu rendah
MEAT ANALOG DARI PROTEIN CURD KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L) DENGAN TEPUNG BIJI KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus) SEBAGAI BAHAN PENGISI : SIFAT FISIKOKIMIA Nurhartadi, Edhi; Anam, Choirul; Ishartani, Dwi; Parnanto, Nur Heriyadi; Laily, Rysda Aina; Suminar, Nor
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.059 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12908

Abstract

PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN SENSORI TEPUNG TEMPE"BOSOK" Andriani, Martina; Anandito, Baskara Katri; Nurhartadi, Edhi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1476.986 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13522

Abstract

Tempe “bosok”,sering kali disebut tempe “over ripe” atau “over fermented”, sangat digemari oleh masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah karena memiliki rasa dan aroma yang khas dan dipakai sebagai bahan pembangkit cita rasa alami dalam masakan. Mengingat manfaat yang begitu besar dari tempe “bosok” sebagai bumbu penyedap masakan dan ketersediaannya masih dalam bentuk segar, maka diperlukan suatu teknologi untuk memperpanjang umur simpan dan mempermudah penggunaannya yaitu dengan teknik pengeringan dan penepungan.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yaitu suhu pengeringan (55°C, 60°C, dan 65°C). Anallisis data menggunakan uji analisis varian (ANOVA), jika ada perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan analisis Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat signifikansi α = 0,05.Karakteristik fisik tepung tempe “bosok” pada berbagai suhu pengeringan adalah: Rendemen berkisar 26,46-29,40%, bulk density 0,52-0,59 g/cm3, kelarutan tepung 99,9956-99,9972%, dan daya serap air 1,39-2,35 ml/g. Berdasarkan karakteristik fisik dan sensoris, tepung tempe “bosok” yang disukai panelis adalah tempe “bosok” yang dikeringkan pada suhu 60°C. Tepung tempe “bosok” dengan suhu pengeringan 60°C menghasilkan rendemen 28,10%, bulk density 0,53 g/cm3, kelarutan tepung 99,9972%, daya serap air 1,96 ml/g, kadar air 8,45%. Karakteristik sensoris tepung tempe “bosok” dengan suhu pengeringan 60°C yang disukai panelis adalah tepung tempe “bosok” yang memiliki warna coklat, aroma khas tempe “bosok” yang tidak terlalu menyengat, dan tekstur yang halus dan kering atau tidak lembab.