Pesantren-based Islamic junior high schools face major challenges in balancing traditional religious values and modern institutional demands. This study aims to examine organizational communication in shaping collective identity through the Communicative Constitution of Organization (CCO) framework. A qualitative instrumental case study design was employed across three institutions in Banyumas Raya involving thirty-six purposively selected informants. Data were collected via participant observation, semi-structured in-depth interviews, focus group discussions, and organizational documentation, followed by interactive thematic analysis using qualitative software. The findings reveal that ritualistic communication during daily communal practices serves as the primary medium for value internalization and cultural negotiation among members. Collective narratives regarding institutional independence and spiritual authority establish a shared interpretive framework across generations. Furthermore, integrating face-to-face interactions with digital media platforms produces a hybrid communication ecosystem that strengthens institutional cohesion against modernization pressures. In conclusion, collective identity is dynamically constituted through recurrent communicative practices rather than rigid structural mechanisms. Practical implications highlight the necessity of cultivating adaptive, participatory communication models rooted in religious norms. ABSTRAK Madrasah Tsanawiyah berbasis pesantren menghadapi tantangan integrasi nilai tradisi dan modernitas yang mempengaruhi kohesi institusional. Kajian ini bertujuan menganalisis komunikasi sebagai pembentuk identitas kolektif menggunakan perspektif Communicative Constitution of Organization (CCO). Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus instrumental ini dilaksanakan pada tiga madrasah di Banyumas Raya melibatkan tiga puluh enam informan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, diskusi kelompok terpumpun, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model tematik interaktif berbantuan perangkat lunak analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi ritualistik dalam peribadatan harian menjadi media utama internalisasi nilai tradisi sekaligus sarana negosiasi kultural antaranggota. Narasi kolektif mengenai kemandirian institusi dan figur otoritas spiritual memandu kerangka interpretasi bersama secara lintas generasi. Integrasi saluran tatap muka dan media digital menghasilkan ekosistem komunikasi hibrida yang memperkuat kohesi identitas di tengah modernisasi. Simpulan membuktikan bahwa identitas kolektif madrasah pesantren terbentuk secara dinamis melalui jejaring komunikasi yang berulang, bukan sekadar ketetapan struktural statis. Implikasi praktis menekankan pentingnya pengembangan model komunikasi partisipatif adaptif berbasis nilai lokal keagamaan.