Salahuddin, Nurul Muthiah
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dinamika Spasial Dengue di Provinsi Sulawesi Selatan: Fragmentasi Spasial tanpa Hotspot Persisten Salahuddin, Nurul Muthiah; Anggondowati, Trisari; Nurhakiki, Syifa
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan, dengan pola penularan yang bervariasi secara spasial maupun temporal. Pada tahun 2024, provinsi ini mencatat insidens DBD sebesar 66,04 per 100.000 penduduk, di mana hanya 12,5% kabupaten/kota yang mencapai target nasional (≤10 per 100.000). Belum diketahui pola spasial yang membentuk klaster yang persisten atau berubah antar waktu, sehingga dilakukan penelitian ini untuk menganalisis pola spasiotemporal serta persistensi klaster spasial kejadian DBD di Sulawesi Selatan. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan pendekatan repeated cross-sectional menggunakan data surveilans DBD tingkat kabupaten/kota periode 2021–2024 yang mencakup 24 kabupaten/kota. Analisis meliputi perhitungan incidence rate per 100.000 penduduk serta analisis spasial menggunakan Global Moran's I dan Local Indicators of Spatial Association dengan matriks bobot K-Nearest Neighbor (K=4), diuji dengan 999 permutasi pada α=0,05. Hasil menunjukkan bahwa insidens DBD berfluktuasi dan meningkat pada tahun 2024. Nilai Global Moran's I mendekati nol dan tidak signifikan secara statistik di semua tahun, menunjukkan tidak adanya autokorelasi spasial global. Analisis lokal mengidentifikasi klaster Low-Low dan outlier spasial dalam jumlah terbatas yang berubah setiap tahun (79–92% wilayah tidak signifikan) dan tidak ditemukan hotspot High-High yang persisten. Disimpulkan bahwa pola spasial DBD di Sulawesi Selatan tidak membentuk klaster yang persisten pada tingkat kabupaten/kota selama periode 2021–2024. Hal ini mengindikasikan dinamika spasial DBD perlu dipantau secara berkala melalui surveilans spasial untuk mendeteksi perubahan pola penularan dari waktu ke waktu.