p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL USM LAW REVIEW
Arief Rizal
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jaringan Buzzer dan Implikasi Hukum dalam Opini Publik Pemilu 2029 Veronica Anggraini Suci Wulandari; Muhammad Junaidi; Albertus Heru Nuswanto; Arief Rizal
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 3 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i3.13492

Abstract

This study aims to analyze the structure of buzzer communication networks, communication strategies, and their juridical implications in shaping public opinion ahead of the 2029 Election. Previous studies have tended to focus on the dimension of digital political communication without integrating buzzer network analysis with a juridical perspective, thus failing to explain the position of buzzers as legal subjects. This research adopts a qualitative approach using normative juridical analysis supported by analysis through literature review, media documentation, and regulatory analysis. The results show that buzzers operate within hierarchical and organized networks, with main strategies including hashtag amplification, offensive and defensive framing, as well as systematic message repetition that shapes public perception on a massive scale. These practices have the potential to be classified as covert campaigning, information manipulation, and violations of the principles of electoral honesty and fairness, especially when carried out in a structured, systematic, and massive manner. The theoretical contribution of this study lies in the development of a legal framework for digital political communication based on the integration of network and juridical analysis. Its practical contribution includes recommendations for strengthening regulations, enhancing digital oversight by Bawaslu, and improving public digital literacy.     Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur jaringan komunikasi buzzer, strategi komunikasi, serta implikasi yuridisnya dalam pembentukan opini publik menjelang Pemilu 2029. Penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada dimensi komunikasi politik digital tanpa mengintegrasikan analisis jaringan buzzer dengan perspektif yuridis, sehingga belum menjelaskan posisi buzzer sebagai subjek hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis yuridis normatif yang didukung analisis melalui studi pustaka, dokumentasi media, dan analisis regulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buzzer beroperasi dalam jaringan hierarkis dan terorganisasi dengan strategi utama berupa amplifikasi hashtag, framing ofensif dan defensif, serta repetisi pesan sistematis yang membentuk persepsi publik secara masif. Praktik ini berpotensi dikualifikasikan sebagai kampanye terselubung, manipulasi informasi, dan pelanggaran prinsip kejujuran serta keadilan pemilu, terutama jika dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah pengembangan kerangka hukum komunikasi politik digital berbasis integrasi analisis jaringan dan yuridis. Kontribusi praktisnya berupa rekomendasi penguatan regulasi, peningkatan pengawasan digital oleh Bawaslu, dan penguatan literasi digital masyarakat.
Penguatan Independensi DKPP dalam Sistem Electoral Governance di Indonesia Arief Rizal; Muhamad Budi Purwanto; Raihan Muhammad
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 4 (2026): DECEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i4.14484

Abstract

This study aims to analyze the urgency of strengthening the institutional framework of the Honorary Council of Election Organizers (DKPP) within Indonesia’s electoral governance system. Previous studies have primarily focused on ethical enforcement, institutional authority, and member recruitment, while limited attention has been given to DKPP’s structural independence. Employing normative legal research with a qualitative library approach, this study examines legislation, Constitutional Court decisions, DKPP decisions, scholarly journals, books, and other relevant legal materials. The findings show that DKPP’s institutional independence remains constrained by three structural issues: a politically vulnerable member selection mechanism, the dependence of its secretariat on the Ministry of Home Affairs, and unequal institutional design compared with the General Election Commission (KPU) and the Election Supervisory Body (Bawaslu). Strengthening DKPP requires an independent and participatory recruitment mechanism, an autonomous secretariat, and the reconstruction of DKPP as an independent court of ethics. The novelty of this study lies in analyzing DKPP through the perspective of structural independence by integrating institutional design, member recruitment, and secretariat autonomy within the framework of electoral governance to safeguard electoral integrity and democratic legitimacy.   Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi penguatan kelembagaan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dalam sistem electoral governance di Indonesia. Kajian mengenai DKPP sebelumnya lebih banyak berfokus pada penegakan kode etik, kewenangan, dan rekrutmen anggota, sedangkan independensi struktural masih terbatas dikaji. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, putusan DKPP, buku, jurnal ilmiah, dan bahan hukum lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa independensi DKPP masih menghadapi tiga persoalan struktural, yaitu mekanisme seleksi anggota yang rentan terhadap pengaruh politik, ketergantungan sekretariat pada Kementerian Dalam Negeri, serta ketimpangan desain kelembagaan dibandingkan dengan KPU dan Bawaslu. Penguatan DKPP perlu dilakukan melalui mekanisme rekrutmen yang independen dan partisipatif, sekretariat yang mandiri, serta rekonstruksi DKPP sebagai court of ethics yang independen. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis penguatan DKPP melalui perspektif independensi struktural yang mengintegrasikan desain kelembagaan, mekanisme rekrutmen, dan kemandirian sekretariat dalam kerangka electoral governance untuk menjaga integritas pemilu dan legitimasi demokrasi.