Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan pelajar kini menjadi fenomena umum, namun dapat memicu dampak psikologis yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keterkaitan antara status hubungan personal, frekuensi konflik karena media sosial, serta tingkat kecanduan terhadap media sosial terhadap kondisi kesehatan mental siswa. Data yang dianalisis diperoleh dari 200 siswa yang berasal dari berbagai negara. Metode K-Means Clustering digunakan untuk mengelompokkan responden berdasarkan variabel-variabel tersebut, disertai analisis korelasi untuk melihat kekuatan hubungan antar faktor. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga kelompok utama. Kelompok pertama terdiri dari siswa dengan skor kecanduan dan konflik tertinggi serta kondisi mental yang cenderung buruk. Kelompok kedua memiliki penggunaan media sosial yang cukup tinggi tetapi minim konflik dan dengan tingkat kesehatan mental yang baik. Kelompok ketiga mencakup siswa dengan status hubungan stabil serta tingkat kecanduan yang rendah. Korelasi statistik mengungkapkan bahwa Terdapat hubungan negatif yang cukup kuat antara kecanduan media sosial dan kesehatan mental (r = -0,62) Konflik sosial yang muncul akibat penggunaan media sosial juga berkorelasi negatif terhadap kesehatan mental (r = -0,48).Siswa dengan status hubungan yang tidak stabil, seperti dalam hubungan yang rumit (complicated), menunjukkan kecenderungan memiliki tingkat konflik dan kecanduan lebih tinggi serta kesehatan mental yang lebih buruk. Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa status hubungan sosial dan interaksi di media sosial memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi lembaga pendidikan dalam merancang pendekatan preventif yang lebih tepat untuk mendampingi siswa dalam penggunaan media sosial secara sehat dan seimbang.Kata kunci: Media sosial, kecanduan, konflik digital, kesehatan mental, K-Means clustering